Minggu, 12/02/2012
PT JOGLOSEMAR PRIMA MEDIA | Jalan Setia Budi No. 89 Gilingan, Banjarsari, Surakarta | Telp. 0271-717141, 0271-720496 dan 0271-741926 | Fax. 0271-741696 | website : www.harianjoglosemar.com | email : redaksi@harianjoglosemar.com
<div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div> <div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div> <div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div>

Buktikan Kemandirian di Balik Tirai Batik

Minggu, 21/02/2010 09:00 WIB - Dwi Hastuti

Image putri Solo yang lembut dan lemah gemulai memang telanjur terpatri. Namun, image itu bagi Diana hanya menjadi label di balik kemandiriannya. Baginya putri Solo, harus tetap gesit, lincah, kreatif dan mandiri.
Tumbuh dari keluarga pebisnis, sejak kecil Diana dan ketiga saudaranya terbiasa melihat ayah dan ibunya bekerja di rumah. ”Ibaratnya, ketika membuka kamar saya sudah langsung lihat batik. Tempat ibu memilih batik pun berada di depan kamar saya. Saat libur sekolah pun, anak-anak terbiasa diajak berdagang,” cerita Diana.
Kendati hidup dalam lingkungan pebisnis yang sukses, Diana mengaku tak dibiasakan hidup dengan suasana kemewahan. Bahkan dia ditekankan untuk menganut pola hidup hemat dan menghargai jerih payah orang lain. ”Waktu kuliah pun, uang saku dari orangtua pun tidak berlebih alias mepet,” ujarnya.
Untuk hidup mandiri, menurut Diana, di keluarganya tidak pernah mendiskriminasikan antara anak laki-laki dan perempuan. ”Kami semua dituntut untuk hidup mandiri,” tegasnya.
Dari didikan keluarga yang menuntut untuk mandiri, Diana mengaku pantang untuk menengadahkan tangan untuk meminta pada orangtuanya. ”Kalau dikasih ya diterima, tetapi kalau tidak ya harus berusaha sendiri,” papar perempuan berusia 41 tahun ini.
Ikut mengelola bisnis keluarga di PT Danar Hadi menjadi kebanggaan tersendiri bagi Diana. Putri kedua dari pendiri usaha batik Danar Hadi, H Santosa Doellah dan Hj Danarsih Santosa ada kesan tersendiri dengan batik. ”Produk perusahaan ini kan icon budaya dunia, yakni batik. Ada kesan bangga, bisa ikut mengelola usaha produk budaya ini,” akunya.
Hal penting lainnya yang membuat Diana bangga ikut mengelola bisnis batik, karena dia memiliki visi-misi untuk menyelamatkan batik sebagai warisan leluhur. ”Tidak jauh berbeda dengan cita-cita orangtua, yakni ingin menyelamatkan batik sebagai budaya bangsa, agar tidak hilang,” kata Diana. (Dwi Hastuti)
 

berbagi di Facebook :
Share
berbagi di Twitter :
berbagi di Google + :