Para calon walikota-calon wakil walikota di Kota Solo mulai melakoni pertarungan secara riil untuk memperebutkan dukungan dari masyarakat. Dua kali, para calon pemimpin Kota Solo tersebut terlibat adu konsep dalam memajukan kota tercinta dan menyejahterakan masyarakatnya.
Dari dua kali pertarungan debat antarcalon itu menyisakan sejumlah suara kritis, optimis sekaligus sinis. Masyarakat sudah mulai menilai dari performa para calon tersebut meski belum sepenuhnya bisa meyakinkan.
Salah satu sorotan yang cukup tajam ditujukan kepada pasangan Pifik Muchtar-Swatinawati. Pasangan ini dinilai belum meyakinkan untuk beradu konsep dengan dua pasangan calon yang lain (Jokowi-Rudy dan Eddy-Supradi) dalam upaya membangun Kota Solo.
Ini tentu menjadi tantangan bagi pasangan Pifik-Swatinawati untuk menunjukkan eksistensinya sebagai calon pemimpin di sebuah kota dengan kompleksitas sangat tinggi seperti Solo.
Apalagi, bukan rahasia lagi kalau banyak anggota masyarakat yang menyebut pasangan ini hanyalah sebagai pasangan “boneka” dalam Pilkada 2010 ini. Meskipun dalam berbagai kesempatan, pasangan ini selalu menolak dikatakan sebagai pasangan “boneka”. Baik Pifik maupun Swatinawati menyatakan, kalau dirinya serius ingin maju sebagai calon walikota-wakil walikota dan bukan atas pesanan pihak tertentu.
Tapi pernyataan itu tidak serta-merta hanya berupa pernyataan sanggahan. Butuh bukti yang konkret karena masyarakat akan terus menyorotinya setiap saat. Masyarakat Kota Solo adalah masyarakat yang dinamis yang pasti tidak mudah percaya dengan pernyataan-pernyataan.
Apalagi, soal lemahnya konsep pasangan ini dalam ajang debat calon juga dibantah. Pasangan ini menilai, tidak maksimalnya mereka dalam ajang debat tersebut karena keduanya tidak memiliki persiapan yang matang dalam menghadapi debat kandidat.
Pernyataan ini memang cukup rentan untuk dipertanyakan mengingat mana kala sudah bertekad mencalonkan diri sebagai pemimpin sebuah wilayah, maka yang bersangkutan sudah harus memahami dan menganalisis anatomi wilayah yang akan dipimpinnya. Untuk itulah tidak ada alasan ketika dalam ajang debat terbuka kemudian beralasan tidak maksimal karena kurang persiapan.
Seseorang yang memiliki keinginan memimpin sudah seharusnya menyadari tanggung jawab secara detail apa yang harus dilakukannya untuk wilayah yang akan dipimpinnya, lengkap dengan problematikanya. Jangan sampai calon walikota-wakil walikota hanya terjebak pada ambisi kekuasaan semata. (***)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |




