Selasa, 22/05/2012
PT JOGLOSEMAR PRIMA MEDIA | Jalan Setia Budi No. 89 Gilingan, Banjarsari, Surakarta | Telp. 0271-717141, 0271-720496 dan 0271-741926 | Fax. 0271-741696 | website : www.harianjoglosemar.com | email : harianjoglosemar@gmail.com

Buah Tangan Tak Harus dari Arab

Rabu, 28/10/2009 16:38 WIB - Risma Hasnawaty

Salah satu kebiasaan yang dilakukan para jemaah haji setelah pulang dari beribadah haji di Tanah Suci adalah memberikan oleh-oleh untuk kerabat. Namun, saat ini banyak jemaah yang berpandangan, bahwa membeli oleh-oleh haji tidak harus di Negeri Arab. Pertimbangan kepraktisan dan harga menjadi alasannya. 
Darfi (52), jemaah asal Brebes mengakui, bila dirinya membeli oleh-oleh tidak harus dibeli dari Tanah Suci.
“Saya sudah pesan beberapa oleh-oleh di sini (sekitar Asrama Haji Donohudan red). Karena kalau membeli langsung di sana, repot juga membawanya,” paparnya.
Dirinya menambahkan, saat ini seluruh kebutuhan untuk dijadikan buah tangan sudah banyak tersedia di sekitar Asrama Haji Donohudan.
Selain harganya jauh lebih murah, juga karena ketatnya aturan pembatasan barang-barang bawaan yang diterapkan oleh pihak penerbangan Garuda Indonesia dan Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH).
Darfi mengaku, guna memenuhi pesanan kerabatnya di Brebes, dirinya sejak tiba di Asrama Haji, buru-buru memesan beberapa kilogram kurma, serta beberapa sajadah. Seluruh barang-barang yang dipesannya itu, kelak bakal ia bagikan ke kerabatnya sepulang dari beribadah haji.
Selain itu, beberapa jenis barang yang kerap menjadi oleh-oleh haji ternyata dapat diproduksi sendiri di dalam negeri. Di antaranya adalah sajadah, boneka unta, serta teko. Hal tersebut dinyatakan Nur (40), salah satu pemilik kios perlengkapan haji di Asrama Haji Donohudan.
Selain menjual oleh-oleh serta perlengkapan haji produksi dalam negeri, pada kiosnya juga tetap menyediakan oleh-oleh yang didatangkan langsung dari Arab Saudi. Salah satunya adalah perlengkapan minum yang terdiri dari satu set cangkir beserta teko, yang terbuat dari material kuningan.
“Perbandingan harga barang yang impor dengan yang lokal pun sebenarnya tidak terlalu jauh,” ungkap Nur. Sehingga untuk para pembeli yang mempertimbangkan harga, mereka akan lebih memilih barang lokal. Misalkan untuk boneka unta impor diberi harga Rp 55.000. Sedangkan yang buatan lokal harganya Rp 45.000. Kemudian untuk tea set impor dapat diperoleh dengan harga Rp 125.000, sedangkan produk lokal hanya seharga Rp 75.000.
Selain barang, ternyata sejumlah kios yang menempati Gedung Arafah tersebut juga menjual air zam zam, yang merupakan salah satu oleh-oleh “wajib” bagi para jemaah. Satu galon air zam zam yang berisi 10 liter dijual dengan harga Rp 250.000.
Membeli air zam zam di dalam negeri pun menjadi pertimbangan beberapa jemaah calon haji. “Beberapa jemaah lebih memilih membeli air zam zam di sini karena ada pembatasan jumlah bawaan, dan harganya pun tidak terlalu jauh,” jelas Nur. (Risma Hasnawaty)

berbagi di Facebook :
Share
berbagi di Twitter :
berbagi di Google + :