Jumat, 18/05/2012
PT JOGLOSEMAR PRIMA MEDIA | Jalan Setia Budi No. 89 Gilingan, Banjarsari, Surakarta | Telp. 0271-717141, 0271-720496 dan 0271-741926 | Fax. 0271-741696 | website : www.harianjoglosemar.com | email : harianjoglosemar@gmail.com

Buah Hatiku, Sahabatku

Minggu, 26/02/2012 06:00 WIB - Sri Ningsih

Hal mendasar dalam menciptakan keharmonisan keluarga adalah hubungan orangtua dan buah hati yang seimbang. Pola asuh yang diterapkan pun akan sangat mempengaruhi bagaimana hubungan orangtua dan anak berjalan baik.
Jenis pola asuh juga secara tidak langsung akan membentuk karakter dan kepribadian anak. Poin itulah yang acap kali dilupakan oleh orangtua. Sebagai orangtua tentunya harus menyadari bahwa setiap anak memiliki karakter yang berbeda.
Oleh sebab itu tak ada salahnya jika pola asuh diubah dengan menjadikan anak sebagai sahabat. Layaknya sebagai sahabat, anak-anak juga memerlukan sandaran saat sedih atau banyak masalah. Seperti halnya dalam persahabatan, saat ada kesalahan maka diberi masukan, saat penuh kegembiraan maka sepantasnya dirayakan bersama.
Begitu juga ketika buah hati menyaratkan memerlukan masukan, maka orangtua perlu untuk sharing bareng. Meski pengertian sahabat bagi anak-anak tentunya tidak sedalam yang dipahami orang dewasa, akan tetapi ada kesamaan pandangan dasar mengenai kebutuhan akan sahabat.
Psikolog Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Dra.Wiwin Dinar Pratisti,M.Si, mengatakan sangat dianjurkan pada usia perkembangan anak orangtua menempatkan dirinya sebagai sahabat sekaligus sebagai figur pelindung, pemberi dan pemerhati sekaligus menjadi role mode bagi anak.
Dalam kesehariannya, anak-anak tidak hanya membutuhkan figur orangtua. Tapi anak juga membutuhkan sosok sahabat yang bisa menjadi partner dalam dunianya, sehingga ia merasa senang, ceria dan nyaman dengan diri dan lingkungannya.
Bukan Manja
Pada usia anak-anak mereka lebih jujur dan natural dalam mengartikan sahabat. Mereka membutuhkan sahabat untuk menemaninya bermain, berinteraksi dan berbagi cerita tentang pengalamannya sehari-hari. Di sini peran sahabat baginya bisa membuat anak lebih terbuka karena dengan menempatkan posisi yang sejajar atau setaraf usianya.
“Dengan memosisikan diri sebagai sahabat untuk anak bisa mentransmisikan nilai-nilai kejujuran, kesetiaan, kebahagiaan, menghargai orang lain dan bisa memberikan nilai-nilai moral yang baik ke anak. Jadi orangtua tak hanya terus membentak dan memaksa anak,” ujar Wiwin.
Menjadi sahabat anak bukan berarti memanjakan anak, tapi ada manfaat yang lebih penting yakni bisa mengembangkan sisi-sisi psikologis dengan menciptakan relasi sosial yang hangat, menanamkan rasa kepercayaan antara orangtua dan anak.
“Agar anak tidak menjadi tergantung atau manja ke orangtua. Orangtua sebagai pemegang otoritas di dalam keluarga juga harus tetap berjalan. Ada saatnya orangtua berperan sebagai teman dan ada kalanya ortu harus tegas jika anak berbuat salah,” imbuh dia.
Sementara itu dengan menciptakan kondisi kedekatan secara psikologis kepada anak tentunya akan membantu anak meningkatkan rasa simpati, empati dan percaya diri. Misalnya saja ajak anak menyiram tanaman bersama orangtua, dengan cara ini akan bisa membantu anak meningkatkan rasa empati ataupun simpatinya.

Sri Ningsih

berbagi di Facebook :
Share
berbagi di Twitter :
berbagi di Google + :