Jumat, 10/02/2012
PT JOGLOSEMAR PRIMA MEDIA | Jalan Setia Budi No. 89 Gilingan, Banjarsari, Surakarta | Telp. 0271-717141, 0271-720496 dan 0271-741926 | Fax. 0271-741696 | website : www.harianjoglosemar.com | email : redaksi@harianjoglosemar.com
<div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div> <div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div> <div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div>

Bonek dan Kekerasan Massa

Selasa, 26/01/2010 11:00 WIB - Nur Kholis Anwar

Fenomena bondo nekat (Bonek) saat ini tengah menjadi perhatian masyarakat. Aksi kekerasan dan tindakan brutal yang mereka lakukan, telah mengundang malapetaka yang bagi orang lain. Pendukung fanatik persatuan sepakbola Surabaya (Persebaya) ini telah lama dikenal sebagai kelompok orang yang sering membuat ulah dalam pertandingan sepakbola, kini meluas hingga ke warga sekitar. Misalnya saja, sewaktu para bonek melakukan perjalanan pulang setelah memberikan dukungan pada timnya, mereka melakukan aksi lempar batu antara warga di beberapa lokasi, antara lain di Stasiun Patukan Gamping Sleman dan Stasiun Lempuyangan Yogyakarta.
Aksi anarkis semacam ini tidak hanya kali pertama terjadi. Ini merupakan fenomena yang telah berlangsung sejak lama di dunia sepakbola Indonesia, dan kini makin mencuat dan diminati banyak kalangan. Bonek cenderung melakukan pengancaman pada pihak yang menang. Mereka tidak setuju jika timnya dikalahkan oleh tim lain. Ihwal pulang dengan menggenggam kemenangan dalam pertandingan harus mereka dapatkan. Dalam hal kemenangan pertandingan ataupun kemenangan anarkis.
Fenomena semacam ini merupakan bentuk kebobrokan tingkat moralitas masyarakat Indonesia. Sampai-sampai dalam pertandingan sepakbola pun masih ditunggangi dengan aksi-aksi kekerasan. Padahal, kita sama-sama masyarakat Indonesia yang menginginkan kedamaian dan perdamaian antara warganya. Namun, hal itu tampaknya kandas di tengah jalan setelah melihat aksi para Bonek yang tidak senonoh itu. Alih-alih untuk menciptakan perdamaian dan kedamaian, baru dalam permainan sepakbola saja sudah tidak mencerminkan kedamaian.
Massa yang seperti inilah yang akan mengerdilkan negara dan sebuah bukti kebobrokan bermasyarakat. Hal ini sama dengan tesis Gustave Le Bon (1951), Bapak Psikologi Massa, yang menulis dalam bukunya Psichologie Der Massen, bahwa massa itu bodoh, mudah diprovokasi, bersifat rasistis atau singkatnya irasional. Massa, demikian tulisannya dalam Psichologie Des Foules, senantiasa terkungkung dalam batas-batas ketidaksadaran, tunduk pada segala pengaruh, mudah diombang-ambing oleh emosi dan mudah percaya. Keadaan seperti ini tentunya membuat massa berada dalam kungkungan keterbelakangan dan kemajuan. Mereka hanya mengikuti arus tanpa mengetahui ke mana arah dan tujuan arus tersebut.
Aksi-aksi yang mereka lakukan merupakan bukti riil sebuah kekerasan yang tanpa mempunyai arah dan tujuan. Atau bisa dikatakan mereka ingin melakukan balas dendam atas kekalahan tim mereka. Padahal, balas dendam bukan merupakan solusi terbaik untuk membalas kekalahan, tapi justru malah memperkeruh masalah. Sudah pasti dalam suatu pertandingan, tidak lepas antara kalah dan menang. Mereka yang menang patut berbangga diri dan mereka yang kalah harus lebih giat lagi berlatih, dan bukan membalas dengan tindakan anarkis.
Secara tidak langsung, tindakan anarkis yang mereka lakukan merupakan tindakan di luar moralitas manusia. Manusia yang mempunyai moral, pasti tidak lepas dari kendali diri untuk tidak melakukan kemungkaran dan begitu juga sebaliknya. Apa boleh di kata, moralitas masyarakat Indonesia masih dicampuri dengan kepentingan-kepentingan kelompok. Kepentingan kelompok inilah yang kemudian mampu mereduksi kekuatan personal manusia. Sehingga apa yang menjadi kehendak kelompok harus mereka ikuti dan dijalankan.
Kekerasan Massa
Ironis memang mengamati perjalanan pertandingan sepakbola di Indonesia ini. Pertandingan sepakbola yang pada mulanya adalah untuk mewadahi kreativitas masyarakat Indonesia dan untuk meningkatkan persatuan dan kesatuan antarpemuda, tapi malah menjadi ladang gersang yang menyakitkan. Kekerasan justru terjadi seiring dengan munculnya pemersatuan tersebut.
Keadaan ini tidak lain adalah karena minimnya solidaritas antartim sepakbola dan suporternya. Mereka saling mengukuhkan tim mereka masing-masing dan menafikan kekuatan tim lain. Akibatnya, tindakan anarkilah yang berbicara, dan bukan penyelesaian sebuah masalah. Masalah justru semakin bertambah dan semakin melebar.
Kalau memang yang menjadi tujuan para bonek itu adalah penegasan diri, tapi kita tidak bisa menafikan suatu data antropologis lain, yaitu  kekaburan diri manusia. Penegasan diri mengandaikan sebuah situasi negatif keburukan diri. Sebuah dialektika yang keji terjadi di dalam batin setiap pelaku kekerasan. Ketidakmampuannya untuk menemukan diri, berubah secara gaib dalam kegagahan diri saat menghadapi korbannya.
Kita tidak bisa membayangkan, bagaimana nasib olahraga sepakbola ini ke depannya jika yang terjadi terus-menerus bertengkar di internal negara sendiri. Kemajuan sepakbola di Indonesia sejatinya bukanlah kemajuan satu kelompok, tapi semua kelompok yang tergabung dalam persatuan sepakbola Indonesia. Kalau yang terjadi demikian, Indonesia akan berani mengunjukkan dayanya untuk melawan negara lain dengan membawa pulang kemenangan.
Keinginan kita semua untuk memajukan olahraga sepakbola di Indonesia, tentunya dimulai dari kesadaran tim untuk bermain fair dengan tim yang lain (internal Indonesia). Tinggalkan aksi-aksi anarkisme yang membuat kerusuhan dalam pertandingan sepakbola. Terlebih dengan melibatkan warga yang tidak tahu apa-apa tentang permasalahan ini. Dengan demikian, persepakbolaan Indonesia akan kembali bangkit dengan perkasa dan mampu mengalahkan lawan internasionalnya.
Penulis adalah Koordinator Lembaga Kajian Kebangsaan (LKKB) Fakultas Syariah UIN Sunan Kali Jaga, Yogyakarta
 

berbagi di Facebook :
Share
berbagi di Twitter :
berbagi di Google + :