SEMARANG—Bilqis Anindya Passa, balita penderita atresia bilier hingga saat ini masih terkena penyakit pneumonia (radang paru-paru).
”Bilqis masih terkena pneumonia, padahal kondisi kesehatan Bilqis menjadi penentu utama pelaksanaan operasi cangkok hati,” kata anggota tim cangkok hati RSUP dr Kariadi Semarang, dr Hartantyo, Selasa (23/3).
Menurut dia, berat badan Bilqis yang sudah mencapai ideal sembilan kilogram pun tidak menjadi jaminan penentuan pelaksanaan operasi. ”Yang terpenting adalah kondisi kesehatan Bilqis,” ujarnya.
”Kami sudah melakukan seluruh tahap persiapan operasi, termasuk tes epstein-barr virus (EBV), namun semuanya tergantung kondisi Bilqis. Seandainya sehari sebelum pelaksanaan operasi Bilqis mengalami panas, operasi bisa diundur,” katanya.
Tim cangkok hati sebelumnya telah menjadwalkan operasi Bilqis dapat dilakukan sekitar pertengahan April 2010 setelah bayi malang itu menjalani perawatan intensif di ruang Pediatric Intensive Care Unit (PICU) akibat terkena pneumonia.
Alami Keluhan
Hartantyo mengatakan bahwa kondisi pasien atresia bilier dalam stadium tersebut memang mengalami keluhan-keluhan, seperti pneumonia antara 24-30 persen. Namun, pihaknya sudah mengantisipasi terjadinya hal tersebut.
Penggagas tim cangkok hati, Prof dr AG Soemantri juga membenarkan bahwa Bilqis terkena pneumonia. Oleh karena itu, Bilqis dipindah ke ruang PICU agar mendapatkan perawatan secara lebih intensif.
”Pneumonia itu disebabkan infeksi dari kuman klebsiella, namun anak-anak yang sehat juga dapat terkena kuman tersebut, terutama saat kekebalan tubuhnya menurun,” katanya.
Ia mengatakan bahwa kondisi dan daya tahan tubuh Bilqis memang lemah karena pengaruh atresia bilier yang juga dideritanya sehingga mudah terinfeksi kuman, termasuk klebsiella penyebab pneumonia.
”Namun, kami sudah melakukan penanganan terhadap pneumonia itu dengan pemberian antibiotik dalam jangka waktu tertentu, pemeriksaan laboratorium, dan foto rontgen,” kata Soemantri yang juga pakar darah itu.
Sementara itu, anggota lain tim cangkok hati, dr Tatty Ermin Setiati menambahkan, kuman klebsiella tersebut dapat diatasi dengan pemberian antibiotik secara teratur, dan secara teori penyembuhannya. (ant)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |







