Kehidupan selalu mengalami perubahan, begitu juga sastra. Sastra selalu memiliki karakteristik yang berbeda di masing-masing zaman. Mulai zaman Balai Pustaka, Pujangga Baru, Angkatan ’45, sampai Angkatan ’66.
Saat itu dunia sastra masih didominasi oleh kaum pria. Namun, di zaman sekarang kaum hawa mampu mengambil peran serta untuk mewarnai jagat raya sastra. Sebagai sebuah karya, sastra mendapatkan tempat tersendiri di hati masyarakat, khususnya bagi kaum remaja.
Masa remaja adalah masa-masa transisi perubahan seseorang, dari kanak-kanak menjadi seorang dewasa yang mempunyai kepribadian mapan. Pada masa ini, remaja sedang gencar mencari jati diri, sehingga cenderung meluapkan ekspresinya secara besar-besaran. Oleh karenanya, sastra dianggap penting sebagai media untuk para remaja mewadahi, bahkan perwujudan ekspresi dirinya dalam sebuah karya yang baik dan positif.
Hal ini sebagaimana diungkapkan U’um Qomariyah SPd MHum, dosen Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Semarang. U’um beranggapan keberadaan sastra sangat berguna dan bermanfaat. Sastra mampu mengalihkan perhatian remaja agar tidak terjerumus ke hal-hal negatif. Selain itu banyak nilai-nilai yang dapat diambil dari sebuah sastra. Karya sastra berbeda dengan senjata, lebih dari itu, ia lebih tajam dari senjata. Karena sastra mampu mengubah prinsip dan paradigma sosial manusia.
Sebagai sebuah karya, sastra begitu akrab dan cukup diminati para remaja. “Lebih dari 70 persen remaja saat ini menyukai karya sastra. Untuk mahasiswa sendiri baik yang jurusan nonsastra pun menyukainya, terutama novel,” ungkapnya saat diwawancarai Tim Akademia, Senin (8/8) lalu. Namun sayangnya, dari jumlah tersebut, sebagian hanya menikmati karya sastra sebagai sebuah hiburan, bukan sebagai ilmu yang bermanfaat untuk dipelajari.
Fenomena yang sering terjadi, menunjukkan suatu keterkaitan antara kegemaran membaca dengan menulis, begitu pula sebaliknya. Biasanya remaja yang tidak suka membaca, sulit untuk diarahkan agar tertarik pada karya sastra. Karena ada empat prinsip keterampilan berbahasa, yaitu menyimak, berbicara, menulis, dan membaca.
Usia para remaja yang masih bergejolak ekuivalen dengan minat ketertarikan yang tinggi. Sayangnya, remaja masih kebingungan dalam mencari bentuk sebuah tulisan dan masih mengalami kesulitan dalam mengeksplorasi ide yang masih semu. Untuk itu, Langit Kresna Hadi, penulis novel sejarah Gajah Mada ini, mengajak para remaja untuk berpikir sebagaimana seorang pengarang, bagaimana pengarang melihat suatu objek, merasakan, memikirkan, serta berkhayal.
Menumbuhkan Minat
Ide untuk memasukkan sastra dalam kurikulum pembelajaran atau hanya sekadar ekstrakurikuler pun dapat menjadi sebuah alternatif untuk menumbuhkan minat baca-tulis seorang remaja. “Sebuah ide yang bagus untuk mengenalkan remaja pada dunia sastra, tetapi yang menjadi sebuah kendala adalah mencari ahli pengajar yang konsisten terhadap sastra dan betul-betul memahami esensi sastra”, ujar penulis yang sekaligus melatih para remaja dalam hal tulis-menulis di Ar-Royan, Surakarta.
Bukan hanya tanggung jawab pihak yang berwenang menggubah kurikulum untuk menumbuhkan minat baca-tulis seorang remaja. Namun seluruh pihak, baik para sastrawan, bahkan pasar di dunia tulisan. Sastra tidak hanya sekadar ilmu yang mengajari kita dalam dunia tulisan. Lebih luas, esensi sebuah sastra adalah dia mengajari kita untuk belajar dari masa lampau melalui sebuah tulisan.
Dikatakan Langit Kresna Hadi, jangan selalu pragmatis melihat sastra sebagai suatu hal yang menjemukan. Apabila diolah dengan baik, sastra dapat menjadi suatu hal yang luar biasa, bahkan dapat menjadi penopang hidup. Seperti yang terlihat beberapa tahun lalu, ketika novel bertema remaja menyedot banyak perhatian. Sebut saja novel Eiffel, I’m in Love yang juga dikarang oleh seorang remaja, dengan bahasa yang ringan dan tema yang mudah dimengerti. Novel ini begitu laris manis di pasaran. Pasar pun begitu antusias dalam melihat celah ini. n Tim UNS
Saat itu dunia sastra masih didominasi oleh kaum pria. Namun, di zaman sekarang kaum hawa mampu mengambil peran serta untuk mewarnai jagat raya sastra. Sebagai sebuah karya, sastra mendapatkan tempat tersendiri di hati masyarakat, khususnya bagi kaum remaja.
Masa remaja adalah masa-masa transisi perubahan seseorang, dari kanak-kanak menjadi seorang dewasa yang mempunyai kepribadian mapan. Pada masa ini, remaja sedang gencar mencari jati diri, sehingga cenderung meluapkan ekspresinya secara besar-besaran. Oleh karenanya, sastra dianggap penting sebagai media untuk para remaja mewadahi, bahkan perwujudan ekspresi dirinya dalam sebuah karya yang baik dan positif.
Hal ini sebagaimana diungkapkan U’um Qomariyah SPd MHum, dosen Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Semarang. U’um beranggapan keberadaan sastra sangat berguna dan bermanfaat. Sastra mampu mengalihkan perhatian remaja agar tidak terjerumus ke hal-hal negatif. Selain itu banyak nilai-nilai yang dapat diambil dari sebuah sastra. Karya sastra berbeda dengan senjata, lebih dari itu, ia lebih tajam dari senjata. Karena sastra mampu mengubah prinsip dan paradigma sosial manusia.
Sebagai sebuah karya, sastra begitu akrab dan cukup diminati para remaja. “Lebih dari 70 persen remaja saat ini menyukai karya sastra. Untuk mahasiswa sendiri baik yang jurusan nonsastra pun menyukainya, terutama novel,” ungkapnya saat diwawancarai Tim Akademia, Senin (8/8) lalu. Namun sayangnya, dari jumlah tersebut, sebagian hanya menikmati karya sastra sebagai sebuah hiburan, bukan sebagai ilmu yang bermanfaat untuk dipelajari.
Fenomena yang sering terjadi, menunjukkan suatu keterkaitan antara kegemaran membaca dengan menulis, begitu pula sebaliknya. Biasanya remaja yang tidak suka membaca, sulit untuk diarahkan agar tertarik pada karya sastra. Karena ada empat prinsip keterampilan berbahasa, yaitu menyimak, berbicara, menulis, dan membaca.
Usia para remaja yang masih bergejolak ekuivalen dengan minat ketertarikan yang tinggi. Sayangnya, remaja masih kebingungan dalam mencari bentuk sebuah tulisan dan masih mengalami kesulitan dalam mengeksplorasi ide yang masih semu. Untuk itu, Langit Kresna Hadi, penulis novel sejarah Gajah Mada ini, mengajak para remaja untuk berpikir sebagaimana seorang pengarang, bagaimana pengarang melihat suatu objek, merasakan, memikirkan, serta berkhayal.
Menumbuhkan Minat
Ide untuk memasukkan sastra dalam kurikulum pembelajaran atau hanya sekadar ekstrakurikuler pun dapat menjadi sebuah alternatif untuk menumbuhkan minat baca-tulis seorang remaja. “Sebuah ide yang bagus untuk mengenalkan remaja pada dunia sastra, tetapi yang menjadi sebuah kendala adalah mencari ahli pengajar yang konsisten terhadap sastra dan betul-betul memahami esensi sastra”, ujar penulis yang sekaligus melatih para remaja dalam hal tulis-menulis di Ar-Royan, Surakarta.
Bukan hanya tanggung jawab pihak yang berwenang menggubah kurikulum untuk menumbuhkan minat baca-tulis seorang remaja. Namun seluruh pihak, baik para sastrawan, bahkan pasar di dunia tulisan. Sastra tidak hanya sekadar ilmu yang mengajari kita dalam dunia tulisan. Lebih luas, esensi sebuah sastra adalah dia mengajari kita untuk belajar dari masa lampau melalui sebuah tulisan.
Dikatakan Langit Kresna Hadi, jangan selalu pragmatis melihat sastra sebagai suatu hal yang menjemukan. Apabila diolah dengan baik, sastra dapat menjadi suatu hal yang luar biasa, bahkan dapat menjadi penopang hidup. Seperti yang terlihat beberapa tahun lalu, ketika novel bertema remaja menyedot banyak perhatian. Sebut saja novel Eiffel, I’m in Love yang juga dikarang oleh seorang remaja, dengan bahasa yang ringan dan tema yang mudah dimengerti. Novel ini begitu laris manis di pasaran. Pasar pun begitu antusias dalam melihat celah ini.
Tim UNS
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |







