Saat ini, banyak stasiun televisi yang menyelenggarakan program pencarian bakat bagi pemilik talenta yang belum sempat menyalurkannya. Dalam program acara tersebut hampir semua pengisi menampilkan kemampuannya baik dalam hal memainkan musik, bernyanyi dan menari. Namun ironisnya dari sekian banyak peserta tersebut jarang yang menampilkan kesenian daerah.
Hal tersebut dapat dijadikan sebagai salah satu indikasi bahwa kaum muda bangsa mulai luntur rasa kecintaannya terhadap kesenian bangsanya sendiri. Ada kecenderungan mereka lebih bangga dengan kesenian negara lain. Tidak mengherankan beberapa waktu lalu santer beredar kabar banyak kesenian negeri ini yang disabotase oleh negara tetangga.
Meski demikian, masih ada masyarakat menganggap kesenian negeri sendiri tetap nomor satu. Kelompok masyarakat tersebut menamakan diri dengan Paguyuban Klotekan Lesung Bonoroto, Pelesungan, Gondangrejo, Karanganyar. Anda boleh percaya atau tidak, seluruh anggota paguyuban ini yakni para orang tua.
“Paguyuban ini, anggotanya semua orang tua yang memang ketika dahulu masih muda mereka terampil menggunakan lesung sebagai alat menumbuk padi,” ungkap Sri Setyoasih, salah satu pendiri dan koordinator Paguyuban Klotekan Lesung Bonoroto kepada Joglosemar ditemui di tempat kerjanya, Kamis, (18/3).
Paguyuban ini telah ada sejak 1965, namun sempat vakum dan baru aktif kembali mulai pada 1994. “Paguyuban ini, telah ada semenjak 1965, namun karena dulu siapa saja yang menumbuk lesung akan dianggap sebagai komplotan Partai Komunis Indonesia, maka berhenti dan baru pada 1994 lalu mulai berlatih kembali,” lanjut wanita yang berprofesi sebagai dosen Institut Seni Indonesia, itu.
Wanita yang akrab dipanggil Tingtong mengaku pada awal memulai kembali paguyuban ini mengalami kesulitan. “Awalnya saya dan suami merasa kesulitan karena para pemainnya sudah tua serta kebanyakan lupa. Kemudian sambil jalan sambil kembali mengingat-ingat dan akhirnya lancar sampai saat ini.”
Paguyuban yang memiliki 20 anggota ini sering tampil pada acara penyambutan turis yang berkunjung ke Solo. Hebatnya para pemainnya ini walaupun telah berusia lanjut tetapi tidak kalah dengan yang muda-muda. “Kami berlatih kalau hanya akan pentas karena memang keseharian dari para anggota sendiri beragam jadi tidak selalu bisa,” papar dosen jurusan seni tari ini.
Agar kesenian ini tidak punah paguyuban, untuk itu sudah memulai mengambil ancang-ancang dengan meregenerasikan lesung kepada para angkatan muda. “Kami saat ini sudah mulai melatih anak-anak muda untuk regenerasi. Kami akui memang agak sulit karena anak sekarang tidak familier dengan lesung tapi sejauh ini perkembangannya memuaskan,” tutupnya. (Rani Setianingrum)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |







