Upacara ibadah kaum Tionghoa tidak pernah lepas dari lilin, termasuk dalam ibadah pada Imlek atau Tahun Baru China. Selain lampion dan angpao, lilin memang menjadi salah satu perlengkapan yang wajib ada di setiap rumah etnis Tionghoa maupun klenteng-klenteng yang menjadi sarana ibadah umat Tri Dharma, yaitu Budha, Kong Hu Chu dan Taoisme.
Bagi kaum Tionghoa menyalakan lilin merupakan simbol harapan dari tahun yang baru dengan tujuan untuk kembali pada harapan untuk menerangi. Lilin penerangan merupakan gambaran filosofi menerangi sekitarnya meskipun diri harus berkorban.
Maka tak heran jika sejumlah pedagang pun sudah menyediakan dan menambah stok lilin bahkan sejak jauh-jauh hari. Salah satunya adalah Jeffry, yang sehari-hari membuka tokonya di kawasan Pasar Gede. Jeffry mengaku sudah menambah stok lilinnya sejak satu bulan yang lalu.
“Meskipun yang beli belum terlalu banyak tapi dari jauh-jauh hari kita harus sudah tambah stok, soalnya kalau sudah mepet nanti susah dapat barangnya,” ujarnya pada Joglosemar, Rabu (20/1).
Setiap mendekati perayaan Imlek, Jeffry selalu menambah stok lilin hingga dua kali lipat dibanding hari-hari biasa. Pasokan biasa ia peroleh dari Semarang, Jakarta, maupun Surabaya.
Di tokonya yang bernama KGH, Jeffry menyediakan dua jenis lilin yaitu lilin polos dan lilin yang dilengkapai dengan gambar maupun tulisan China. Lilin polos hanya digunakan untuk di kuburan, sedangkan lilin-lilin bergambar lebih banyak dipakai di rumah atau pun di tempat-tempat ibadah.
“Kalau lilin bergambar ini dijualnya sepasang karena di masing-masing lilinnya ada tulisan yang saling berhubungan. Kebanyakan sih lilin impor dan harganya satu setengah kali lipat dibanding lilin lokal, tapi memang jauh lebih awet,” terangnya.
Ukuran
Selain itu ada pula lilin yang terbuat dari jelly. Biasanya lilin ini dicetak dan dijual dalam wadah gelas. Kelebihan lilin yang satu ini adalah saat dibakar bisa mengeluarkan aroma wangi dan juga tahan lama. Harga yang ditawarkan bervariasi mulai dari Rp 22.500 sampai Rp 95.000 tergantung ukurannya.
“Ukurannya juga macam-macam mulai dari setengah kati sampai 10 kati, harganya dari Rp 12.000 sampai Rp 90.000. Setiap ukuran dan jenis ada peminatnya sendiri-sendiri, mereka biasanya beli sesuai dengan kemampuannya,” tutur pria berusia 63 tahun ini.
Jeffry memperkirakan pejualan lilin baru akan mengalami puncaknya pada awal Februari mendatanga. “Biasanya bisa meningkat sampai dua kali lipat. Ada yang beli untuk keperluan pribadi, untuk disumbangkan ke klenteng, atau untuk dijual lagi,” jelasnya yang enggan merinci berapa omzset yang biasa ia peroleh. (Rachmadhani Fitriastuti)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |







