Apa kabar sastra di Solo? Pertanyaan ini kerap muncul ketika orang ingin tahu progresivitas sastra di Solo dan pengenalan terhadap kehadiran penulis-penulis baru. Jawaban mesti terus diperbarui untuk mengabarkan sekian fakta perubahan atau seribu satu perkara klise tentang kemacetan sebaran sastra.
Kabar baik bisa membuat publik lega dan memberi acungan jempol agar sastra di Solo terus moncer secara kualitatif dan kuantitatif. Kabar buruk tentu menjadi peringatan keras agar ada kritik diri dan evaluasi dalam agenda melakukan pembenahan dan perubahan.
Sastra di Solo pada tahun 2009 tampak mulai memiliki indikasi perubahan signifikan menuju nasib baik. Publikasi sekian teks sastra di lembaran kebudayaan di pelbagai media massa cetak terus melimpah dan publikasi dalam bentuk buku juga telah merambah ke pelbagai pelosok kota.
Publik bisa melakukan pencatatan bahwa para penulis sastra di Solo telah memberi kontribusi besar untuk politik pencitraan dan kesanggupan menampilkan diri dalam pencapaian estetika. Teks-teks sastra dari para penulis Solo telah tersebar di pelbagai media massa lokal sampai nasional: Kompas, Seputar Indonesia, Republika, Media Indonesia, Jawa Pos, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Pikiran Rakyat, Solopos, Joglosemar, Surabaya Post, dan lain-lain.
Penerbitan buku sastra pun mulai memikat publik sastra di Indonesia untuk menengok dan memberi perhatian terhadap penulis-penulis sastra di Solo. Daftar pendek penerbitan buku-buku sastra: novel Ma Yan oleh Sanie B. Kuncara, novel Pandaya Sriwijaya oleh Yudhi Herwibowo, novelet Pulung oleh Indah Darmastuti, antologi puisi Kitab Diri oleh Puitri Hatiningsih, antologi geguritan Jinigaring Rasa oleh Agus Budi Wahyudi, antologi puisi Pigura oleh Haris Firdaus, dan lain-lain.
Produksi sastra dari para penulis Solo ini telah mendapati resepsi pembaca sebagai parameter pasang surut dunia sastra Solo di kancah pemetaan sastra Indonesia. Kehadiran buku-buku sastra itu sebagai penanda bahwa gairah sastra masih ada di Solo.
Fakta penting dari gerakan sastra di Solo ditampilkan oleh Komunitas Pawon Sastra dengan penerbitan antologi cerpen Lamaran Sri (2009). Buku ini menghimpun sembilan cerpen tentang Solo. Para penulis ikut memberi andil untuk mengisahkan Solo dengan pelbagai narasi dan perspektif. Para penulis itu antara lain Ratih Kumala, Joko Sumantri, Indah Darmastuti, Andri Saptono, Marwanto, Retno Iswandari, Sanie B. Kuncoro, Is Sukandar, dan Sri Atin. Buku ini menjadi ikhtiar untuk memberi arti terhadap Solo dengan konstruksi kata dan makna. Model ini mengisi kekosongan dari pamrih Kota Solo menjadi kota budaya dengan penguatan di seni pertunjukkan. Sastra ternyata sanggup mengisahkan Solo dengan apik dan reflektif.
Situasi sastra di Solo pada tahun 2009 juga diramaikan dengan agenda diskusi sastra di Taman Budaya Jawa Tengah, Balai Soedjatmoko Solo, UNS (Universitas Negeri Sebelas Maret), UMS (Universitas Muhammadiyah Surakarta), dan lain-lain. Keberadaan Taman Budaya Jawa Tengah ikut memberi arti atas pertumbuhan sastra di Solo dengan serial acara diskusi dan penerbitan antologi cerpen, antologi puisi, dan buletin sastra.
Kontribusi penting juga tampak dari agenda rutin Ngudarasa Sastra tiap awal bulan di Balai Soedjatmoko Solo. Acara ini dimotori oleh Bale Sastra Kecapi sebagai bentuk pembelajaran terhadap wacana-wacana sastra. Tradisi diskusi itu justru tidak diimbangi oleh peran intitusi perguruan tinggi di Solo.
Sastra di Solo mulai menunjukkan gelagat untuk tampil sebagai tanda literasi di Kota Solo. Penerbitan buletin dan jurnal menjadi sarana melakukan komunikasi dengan publik dalam pamrih sastra. Buletin Pawon, Littera, dan Toelis telah menjadi ruang kreatif untuk para penulis mewartakan pencapaian estetika. Peran itu diimbuhi dengan kehadiran Jurnal Kandang Esai dan Jurnal Tempe Bosok untuk mengisi lini esai sastra dan sastra Jawa. Dua jurnal ini sengaja mengambil jalan beda agar ada mozaik dalam pertumbuhan sastra di Solo.
Kabar sastra pada tahun lalu tentu bisa menjadi pijakan untuk memikirkan nasib sastra masa depan. Ancangan untuk progresivitas sastra di Solo perlu dipikirkan dengan pengharapan sastra tidak sekadar menjadi catatan kaki dalam pertumbuhan kota. Optimisme perlu dimunculkan sebagai pijakan mengenalkan sastra pada publik melalui workshop penulisan sastra atau distribusi terbitan sastra ke sekolah, universitas, dan kampung.
Pengenalan terhadap penulis-penulis Solo juga perlu dilakukan untuk menumbuhkan motivasi pada penulis-penulis pemula. Komunikasi intensif antara pelaku sastra dan publik menjadi penentu dari persemaian sastra di Solo. Kegagalan komunikasi bakal membuat sastra tetap teralineasi dan punah sebagai wacana publik.
Sastra di Solo hari ini mulai berjalan dengan percaya diri dan berani membandingkan diri dengan situasi sastra di kota-kota lain. Kehadiran pelbagai komunitas sastra dan penerbitan sastra telah menjadi juru bicara meski tidak utuh merepresentasikan sastra di Solo dalam jalinan masa lalu, masa sekarang, dan masa depan. Pesimisme mungkin masih ada ketika melihat nasib sastra di Solo tergantung dari kebijakan universitas, dinas pemerintahan, institusi kebudayaan, atau keberpihakan media. Pesimisme ini kadang membuat gerakan sastra jadi inferior dan hilang gairah.
Pembayangan sastra di Solo untuk tahun ini dan masa depan kentara memerlukan modal niat dan keberanian mengusung sastra sebagai ikon gerakan kultural-intelektual. Ketiadaan perhatian dari pemerintah atau universitas justru harus dijadikan sebagai dalil kreatif untuk menggerakkan sastra sampai pada publik dengan pelbagai mekanisme populis. Publik sastra jangan terus mengiba untuk minta perhatian dengan alasan-alasan pragmatis. Persemaian sastra di Solo mesti mengacu pada spirit untuk penyadaran literasi dan penghargaan atas kerja kreatif para penulis dalam mengisahkan kehidupan. Kampanye sastra oleh para penulis muda di Komunitas Sastra Pawon perlu mendapati dukungan: ”Mendingan membaca ketimbang tidak membaca dan mendingan menulis ketimbang tidak menulis.” Begitu.
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |







