Pada mulanya, Sayid Yahya Asagaf tidak mengenal wayang, namun pada suatu saat ketika sedang menimba ilmu di negeri Mesir keadaan tersebut berubah. “Waktu itu, presiden pertama Indonesia Bung Karno berkunjung ke Mesir dan mengadakan pertemuan dengan pelajar Indonesia yang sedang menimba ilmu. Entah kebetulan atau memang disengaja Bung Karno bertanya kepada saya apakah saya mengetahui tentang wayang?” kenangnya.
Saat itu itu, Bung Karno menyarankan jika ingin mengetahui dunia perpolitikan maka harus mendalami perwayangan. Anjuran Bung Karno tersebut tentulah bukan sekadar anjuran tanpa makna tertentu.
“Berawal dari situlah, saya mulai mempelajari wayang dan ternyata benar karena perwatakan yang dimiliki oleh tokoh pewayangan sama dengan karakter manusia pada umumnya,” ungkap Sayid yang juga pimpinan LSBS. “Selain ada simbol-simbol karakter manusia ada juga falsafah yang terkandung dalam wayang.”
Ketika ditanya mengapa menyukai wayang, Sayid mengungkapkan jika sebenarnya mendalami wayang sangat menyenangkan. “Jika dihayati mala kita akan mendapatkan pengalaman, pengetahuan, aspirasi, dan solusi dalam menghadapi kehidupan.”
Lain Sayid, lain pula dengan Mike. Mike mengaku jika awal mula perkenalannya dengan dunia pewayangan yakni karena tertular sang suami. “Walaupun saya asli Solo tetapi saya menyukai wayang ini belum lama, itu pun juga karena ketularan suami,” ungkapnya sambil tersenyum.
Saat ini sendiri LSBS telah memiliki dua jenis wayang kuno yang usianya telah lebih dari 200 tahun. “Jenis wayang yang kami miliki yakni wayang klitik dan wayang purwo. Wayang-wayang tersebut kami dapatkan dari beberapa daerah di Jawa dan usianya sudah lebih dari 200 tahun,” terang Mike, Pelaksana Harian LSBS. (tia)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |







