Jumat, 18/05/2012
PT JOGLOSEMAR PRIMA MEDIA | Jalan Setia Budi No. 89 Gilingan, Banjarsari, Surakarta | Telp. 0271-717141, 0271-720496 dan 0271-741926 | Fax. 0271-741696 | website : www.harianjoglosemar.com | email : harianjoglosemar@gmail.com

Bangsal Kepatihan Dipoles, Kereta Disiapkan

Sabtu, 01/10/2011 00:41 WIB - Detik | Kiki Dian S

The Royal Wedding ala Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat sebentar lagi akan dihelat, tepatnya 18 Oktober mendatang. Pernikahan agung GRAj Nurastuti Wijareni putri bungsu Sri Sultan Hamengku Buwono X dengan Achmad Ubaidillah yang kini bergelar Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Yudanegara dipastikan akan menyedot perhatian masyarakat luas. Baik dalam negeri maupun luar negeri, mengingat unsur budaya dan tradisinya sangat kuat.
Sejumlah persiapan pun sudah dilaksanakan. Termasuk lokasi Bangsal Kepatihan kompleks perkantoran Pemprov Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Jalan Malioboro yang akan digunakan untuk resepsi. Ya, pernikahan kali ini memang berbeda dari pernikahan-pernikahan putri Sultan yang biasanya digelar di Keraton Yogyakarta.
Membawa aura dan keindahan masa lalu kembali ke masa kini, agaknya konsep itulah yang akan diusung dalam momentum bersejarah tersebut.
“Acara resepsi nanti akan kembali seperti zaman kaping piton atau zaman HB VII dengan menggelar resepsi di Kepatihan dan pengantin akan dikirab,” GBPH Joyokusumo yang merupakan adik Sri Sultan.
Bangsal Kepatihan tersebut dulunya merupakan tempat tinggal Patih Danurejo. Bangunan berbentuk Joglo itu direnovasi agar terlihat lebih cantik. Perbaikan seperti penggantian ubin dan pengecatan telah rampung. Begitu juga dengan penggantian kayu-kayu yang keropos. Semuanya demi memperlancar Hari H pernikahan tersebut.
Kereta
Tak hanya itu, khalayak umum juga akan dapat menikmati pernikahan tersebut. Sebab kedua mempelai akan diarak dengan kereta keraton. Namun hingga kini, panitia belum mengetahui pasti kereta kencana apa yang akan ditumpangi kedua mempelai karena menunggu titah Sri Sultan. Termasuk juga,  jumlah kuda yang akan menarik kereta yang tersimpan di Museum Kereta Keraton Yogyakarta.
Sebelumnya, Kereta Kanjeng Kyai Jongwiyat buatan Belanda tahun 1780-an sudah dipilih untuk membawa pasangan tersebut. Namun jelang beberapa minggu sebelum pernikahan, ada kereta kencana lain yang menjadi alternatif lain yakni Kereta Jetayu.
Kereta Kyai Jetayu serba tertutup. Jika Sultan memilih kereta ini, pasangan pengantin tidak akan terlihat jelas oleh rakyat yang ingin menonton.
Nama Kyai Jetayu diambil dari nama burung sejenis Garuda dalam legenda Ramayana. Kereta ini asli buatan Yogyakarta sekitar tahun 1925-1931. Kereta itu dirancang khusus oleh Sri Sultan Hemengku Buwono VIII.
Biasanya, Kereta Kyai Jatayu ditarik oleh empat ekor kuda. Keunikan dari kereta ini adalah, tidak adanya kusir melainkan plaer yang duduk di atas salah seekor kuda.
Untuk baju pengantinnya, Sang Ibunda, Gusti Kanjeng Ratu Hemas mengaku tidak dibuat oleh desainer mahal. Baju yang akan dipakai pengantin ataupun keluarga dipesan di tukang jahit langganan Keraton Yogyakarta.

Detik | Kiki Dian S

berbagi di Facebook :
Share
berbagi di Twitter :
berbagi di Google + :