Desa yang tenang itu, mendadak gempar. Sang demang kebanggan warga menghilang, karena diculik sekelompok orang. Suasana semakin mencekam, ketika sang demang akhirnya ditemukan tewas dibunuh.
Begitu cerita singkat dengan nada terbata-bata dari seorang warga penderita cacat mental, orang yang menemukan jenazah sang demang pertama kali. Desa yang tenang itu sekejap menjadi tegang setelah berbagai rumor bermunculan sebagai penyebab tewasnya sang demang.
Rumor itu kian memanas setelah bermunculan empat orang yang berambisi menggantikan jabatan sang demang. Mereka adalah, Yatmi, Trimo, Nyai (istri demang lama- red ), serta Parno.
Berbagai cara ditempuh empat orang tersebut untuk menjadi orang nomor satu di desa tersebut. Mulai dari kampanye, hingga cara terendah dalam merebut kekuasaan, yakni mengandalkan kekuatan mistis sang dukun.
Siapa pemenang dari pemilihan demang tersebut? Di luar dugaan, dari keempat kandidat yang bersaing tak satupun yang lolos. Keempatnya mengalami nasib tragis karena terkena imbas dari sihir masing-masing dukun andalan mereka. Al hasil, desa itu kembali tenang tanpa demang seperti sedia kala.
Sederhana dan agak kolosal memang cerita dari pentas teater bertajuk Nujum itu. Emosi penonton menyelimuti suguhan pentas karya mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia dan Sastra Jawa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Aksi mereka di Hall kampus setempat, Jumat (8/1) malam berhasil memukau penonton yang rata-rata dari kalangan mahasiswa.
Tema sederhana yang dibesut Arif Kurniawan sengaja disuguhkan untuk merangsang kepekaan emosi penonton terhadap kondisi sosial di lingkungan sekitar yang belum lepas dengan tradisi mistik. ”Lewat pentas ini, kami berharap bisa memberikan pencerahan kepada siapa saja bahwa menghalalkan segala macam cara mistik itu berakibat buruk,” kata Arif, sutradara teater bertajuk Nujum. (Dwi Hastuti)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |







