Gelak tawa penonton sudah terdengar sebelum pentas. Itulah yang terjadi pada pementasan Comedy From Java digelar di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) Solo, Sabtu (27/3) malam. Perawakan jenaka para pemain serta kostum yang mereka kenakan, memaksa senyum geli tersebut merekah terlebih dahulu. Sebelum acara dimulai para pemain memperkenalkan diri masing-masing yang mayoritas dihuni personel musik humor Pecas Ndahe, seperti Si Doel, Pakdhe dan lain-lain.
Mengangkat tema Mendem Jero Mikul Duwur, acara berbalut komedi tersebut disajikan dalam durasi sekitar dua jam. Setting panggung sengaja dibuat berdekatan dengan penonton, ini tak terlepas dari pola interaksi yang terbangun saat pentas berlangsung.
Pementasan ini mengambil kisah sebuah keluarga yang mempunyai tiga orang anak, yakni sebagai menjadi PNS, waria dan pemuda pengangguran bernama Budi. Pesan yang tersirat dalam cerita Comedy From Java menggambarkan tanggung jawab seorang anak dalam mengabdikan dirinya kepada kedua orangtua.
Hanindawan selaku sutradara menyebutkan, kisah Mendem Jero Mikul Duwur dicontohkan oleh perilaku kurang terpuji seorang anak menjelang kematian orang tuanya. Bagaimana tidak, ketiga anak tersebut justru mengadakan semacam ritual geladi resik seolah hanya memenuhi hasrat duniawinya memperoleh warisan.
Prosesi baris berbaris hingga pemesanan peti jenazah berwarna pink dikemas dengan guyonan. Yang menarik ketika terpampang papan ucapan bela sungkawa dengan tulisan Selamat Jalan ke Alam Baka, Semoga Sukses.
Ardi Setyawan, salah seorang penonton mengatakan, lakon ini walaupun dikemas dalam bungkus komedi, namun banyak pesan moral yang tertanam di dalamnya. “Cerita Mendem Jero Mikul Duwur ini sangatlah dalam maknanya. Walaupun dengan basic humor, namun pesan penting bagi seorang anak untuk berbakti kepada orangtuanya, tak berhenti ketika mereka telah meninggal dunia,” tandasnya. (Bonus Wibowo Bramhartyo)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |







