Kebanyakan masyarakat luas menilai baik tidaknya suatu Perguruan Tinggi berdasarkan atas akreditasi apa yang melekat. Itu tidak salah, karena memang akreditasi merupakan pengakuan atas mutu suatu lembaga pendidikan tertentu yang diberikan oleh Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas). Tapi, tahukah bahwa untuk memperoleh akreditasi yang baik, diperlukan adanya berbagai syarat, salah satunya adalah keberadaan jurnal ilmiah.
Ironisnya, hingga saat ini, kesadaran dari para kaum intelektual yang terdapat di Perguruan Tinggi untuk menerbitkan berbagai jurnal ilmiah masih sangat minim. Entah karena faktor kurangnya kepercayaan diri, atau memang kurangnya fasilitas dari Perguruan Tinggi untuk menunjang terealisasinya penerbitan jurnal ilmiah, mengakibatkan produktivitas jurnal ilmiah tidak konsisten. Maksudnya, terkadang terbit, terkadang tidak terbit. Bahkan, ada juga Perguruan Tinggi yang jarang mengeluarkan jurnal ilmiahnya.
Mengingat pentingnya jurnal ilmiah bagi sebuah institusi Pergurauan Tinggi, misalnya untuk membantu mewujudkan akreditasi atau pengakuan mengenai mutu pendidikan yang baik, tentunya keberadaan jurnal ilmiah menjadi sebuah keniscayaan yang harus ada. Jika demikian, bagaimana cara untuk bisa menumbuhkan kesadaran bagi mahasiswa maupun dosen untuk bisa menghasilkan jurnal ilmiah?
Dosen Ekonomi Sekolah Tinggi Ekonomi Ama (STIE Ama) Salatiga, Drs Lukmanul Hakim, MM, mengatakan, merujuk pada aturan Kemendiknas, setiap dosen diwajibkan untuk melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang meliputi pendidikan, pengajaran, dan penelitian, pengabdian masyarakat, dan lain-lainnya. Dalam konteks pendidikan dan penelitian, keberadaan jurnal ilmiah merupakan suatu bentuk aktualisasi sekaligus sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas Perguruan Tinggi, begitu juga dengan mahasiswanya.
“Dosen ataupun mahasiswa yang aktif dalam membuat karya ilmiah dan kemudian diterbitkan dalam jurnal ilmiah, akan memberikan nilai lebih kepada Perguruan Tingginya, selain itu juga bisa memberikan semacam pendidikan kepada siapa saja yang membacanya. Apalagi, jurnal ilmiah ini bisa dipublikasikan melalui perpustakaan maupun lembaga-lembaga pemerintah. Jadi, siapa saja bisa membaca dan mendapatkan ilmu, karena yang dimuat di dalamnya merupakan hal-hal yang ilmiah dan mendidik,” paparnya.
Meningkatkan Mutu
Lukmanul menambahkan, karya ilmiah yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah, juga akan mampu meningkatkan mutu pendidikan sekaligus sebagai sarana pembuktian kualitas pendidikan di sebuah Perguruan Tinggi. “Maka dari itu, kesadaran dari dosen maupun mahasiswa untuk mau menulis karya ilmiah dan diterbitkan dalam jurnal ilmiah perlu untuk lebih ditingkatkan dan perlu mendapatkan suport,” imbuhnya.
Hal senada diungkapkan Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa Universitas (BPMU) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, Lussua. Menurutnya, keaktifan dosen maupun mahasiswa dalam menghasilkan berbagai karya ilmiah yang kemudian dibukukan dalam jurnal ilmiah, langkah nyata guna menunjang mutu pendidikan di sebuah Perguruan Tinggi, sekaligus sebagai sarana promosi mutu sebuah Perguruan Tinggi.
“Sangat disayangkan, hingga saat ini banyak Perguruan Tinggi yang belum memaksimalkan publikasi jurnal ilmiahnya. Kalau masalahnya dosen atau mahasiswa masih malu-malu, ya harusnya Perguruan Tinggi bisa memacunya, misalnya dengan memberikan reward atau malah mewajibkan. Lagi pula, sebenarnya jurnal ilmiah itu kalau bagi mahasiswa kan bisa menjadi sarana aktualisasi diri atas ilmu yang diperoleh selama kuliah,” paparnya.
Perlu Dukungan
Sementara itu, Dosen Fakultas Sains dan Matematika UKSW, Prof Dr Kris Herawan Timotius, mengungkapkan, Perguruan Tinggi haruslah menjadi menjadi produsen aktif dalam menghasilkan berbagai karya ilmiah. Pasalnya, Perguruan Tinggi merupakan lembaga yang menghasilkan kalangan cendekiawan serta kaum cerdik pandai, sehingga, tidak ada alasan bagi Perguruan Tinggi tidak mampu mengeluarkan jurnal ilmiah.
“Sebenarnya, hanya butuh keseriusan saja. Kalau dosen dan mahasiswa serius serta mendapatkan dukungan dari pemegang kebijakan di Perguruan Tinggi, tentunya tidak akan ada kendala untuk membuat jurnal ilmiah. Lagi pula, ya memang salah satu tugas Perguruan Tinggi adalah menghasilkan karya-karya ilmiah yang berguna bagi masyarakat,” katanya.
Lebih lanjut Kris mengatakan, agar mutu dan kualitas jurnal sebagai salah satu nilai plus Perguruan Tinggi bisa terus meningkat, Perguruan Tinggi harus kerap melakukan berbagai kajian serta penelitian-penelitian ilmiah yang kemudian dibukukan dalam jurnal ilmiah.
“Jangan anget-anget tai ayam saja, sekali terbit, besoknya tidak. Harus ada konsistensi dan komitmen dari dosen, mahasiswa maupun pemegang kebijakan di Perguruan Tinggi untuk bisa membuat jurnal ilmiah yang bermutu,” pangkasnya. (nova/adventius)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |







