Seiring kemajuan zaman, kehidupan manusia selalu menuntut segala sesuatu dapat dilakukan secara cepat dan praktis. Sebisa mungkin memangkas waktu kerja dan penggunaan material yang terlalu banyak dan perkembangan teknologi diharapkan mampu memenuhi itu semua.
Hal ini tampak jelas pada kehadiran rangka atap baja, sebagai salah satu alternatif pilihan konstruksi pengganti material kayu.
Kadang kala ketika melihat sebuah bangunan yang sedang dikerjakan terutama yang sedang memasang rangka atap, terlihat struktur rangka baja berwarna perak digunakan untuk struktur penyangga atap, tidak digunakan kayu seperti biasanya. Itulah konstruksi rangka atap baja ringan yang semakin banyak digunakan. Tidak lagi terbatas hanya pada proyek-besar dan mewah tetapi sudah digunakan juga pada rumah-rumah tinggal, gedung sekolah, ruko, dan lain-lain.
Berbeda dengan baja konvensional, baja ringan merupakan baja mutu tinggi yang memiliki sifat ringan dan tipis, namun memiliki fungsi setara baja konvensional. Baja ringan ini termasuk jenis baja yang dibentuk setelah dingin (cold form steel).
Salah satu distributor rangka atap baja ringan di Solo adalah Mekar Jaya dengan merek XFrame yang diimpor langsung dari Australia. Direktur Mekar Jaya Solo, Halim Handoko, menuturkan rangka atap baja ringan sengaja diciptakan untuk memudahkan perakitan dan konstruksi bangunan.
Halim menuturkan sejak hadir di Solo pada tahun 2005 lalu, rangka atap baja ini cukup mendapat respons positif dari masyarakat. Diakuinya butuh sekitar satu tahun untuk memperkenalkan produk ini.
“Setiap provinsi perwakilan distributor resminya cuma ada satu dan untuk Jawa Tengah adanya ya di Solo ini. Sekarang dalam satu bulan kita bisa menangani samapi belasan proyek untuk seluruh wilayah Jateng, dan separuh di antaranya adalah dari Solo,” terangnya.
Dijelaskannya, rangka atap ini terbuat dari tiga jenis besi baja yaitu reng, truss dan truss box. Untuk truss tersedia dua ketebalan yang berbeda yaitu 1,00 mm dan 0,75 mm, sedangkan untuk reng hanya tersedia satu ukuran ketebalan yaitu 0,50 mm.
Namun meskipun tipis, Halim memastikan baja ringan ini memiliki derajat kekuatan tarik yang tinggi yaitu sekitar 550 MPa. Sementara baja biasa hanya sekitar 300 MPa. Kekuatan tarik dan tegangan ini untuk mengkompensasi bentuknya yang tipis.
“Untuk atap memang sengaja dipilih yang ringan dan tipis agar tidak terlalu membebani konstruksi bangunan yang ada di bawahnya. Tapi sekalipun tipis tetap terjamin kekuatannya,” ujar Halim kepada Joglosemar, pekan lalu.
Halim menjelaskan kelebihan dari XFrame ini adalah, selain praktis dapat mereduksi penggunaan kayu yang kini harganya tidak bisa dibilang murah. Untuk kayu-kayu kualitas bagus seperti jati dan bangkiray harganya mencapai Rp 200.000 per meter persegi. Sedangkan XFrame hanya berkisar Rp 140.000 per meter persegi.
Tidak hanya itu, karena baja ini dilapisi zincalum (campuran antara besi dan aluminium) membuatnya jadi bebas rayap. Seperti diketahui rayap acap kali menjadi musuh para penghuni rumah atau pemilik bangunan karena suka menggerogoti kayu.
“Jadi bisa dikatakan rangka atap baja ini ramah lingkungan, selain karena antirayap juga bisa mengurangi penggunaan kayu yang semakin langka juga. Dan atap baja ini juga tidak mudah keropos,” ujarnya. (Rachmadhani Fitriastuti)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |







