Jumat, 18/05/2012
PT JOGLOSEMAR PRIMA MEDIA | Jalan Setia Budi No. 89 Gilingan, Banjarsari, Surakarta | Telp. 0271-717141, 0271-720496 dan 0271-741926 | Fax. 0271-741696 | website : www.harianjoglosemar.com | email : harianjoglosemar@gmail.com

Asyiknya Naik Bendi Sambil Nunggu Beduk

Kamis, 25/08/2011 00:09 WIB - Raditya Erwiyanto

Beragam cara dilakukan warga Kota Solo untuk menunggu saat berbuka puasa tiba. Salah satunya dengan menaiki bendi. Cukup dengan merogoh kocek Rp 10.000, Anda bisa menikmati pemandangan di seputar Stadion Manahan, sekaligus merasakan semilir angin yang begitu sejuk.
Satu hal yang menjadi kekhasan ketika menaiki moda transportasi tradisional ini, yakni suara sepatu kuda yang terdengar ritmis mengiringi putaran roda gerobak.
Salah seorang warga, Lilis Suryaningsih, mengaku senang dengan keberadaan bendi tersebut. “Sambil menunggu buka tiba tak salah kan mencoba menaiki bendi, walapun baru sekali ini tetapi Lilis sangat menikmati dan tertarik. Suatu saat saya ingin menaikinya lagi,” tutur warga Nusukan, Banjarsari, Surakarta ini.
Menurut Lilis, tarif Rp 10.000 yang dipatok kusir bendi itu cukup terjangkau. “Bagi saya, harga segitu sepadan, karena saya mendapatkan pengalaman yang baru kali ini saya rasakan,” ucapnya.
Hal senada juga diutarakan Ahmad, warga Kestalan, Surakarta. Bersama anaknya, Ahmad tampak menikmati kenyamanan berkendara bendi. “Tidak setiap hari saya menaiki bendi untuk menunggu saat berbuka tiba. Biasanya pada hari Minggu saya beserta istri dan anak saya menaiki kuda bendi untuk mengelilingi area Stadion Manahan,” imbuhnya.
Salah seorang pemilik jasa penyewaan bendi, Petruk, mengaku setiap kali bulan Ramadan, pendapatannya bertambah drastis. “Biasanya sebelum bulan Ramadan hanya sepuluh kali putaran saja, tetapi saat Lebaran tiba bisa sampai lima belas kali putaran,” ungkap warga Dawung Kulon, Solo ini.
Petruk sendiri sudah hampir 17 tahun menggeluti jasa persewaan bendi semacam ini. “Sejak tahun 1994 hingga sekarang saya masih menyewakan jasa bendi, dengan bendi saya sendiri saya masih bertahan hingga saat ini,” tuturnya.

Raditya Erwiyanto

berbagi di Facebook :
Share
berbagi di Twitter :
berbagi di Google + :