Jumat, 18/05/2012
PT JOGLOSEMAR PRIMA MEDIA | Jalan Setia Budi No. 89 Gilingan, Banjarsari, Surakarta | Telp. 0271-717141, 0271-720496 dan 0271-741926 | Fax. 0271-741696 | website : www.harianjoglosemar.com | email : harianjoglosemar@gmail.com

Arak Dupa dan Kertas Tek Tak Terlewatkan

Minggu, 28/03/2010 09:00 WIB - Rani Setianingrum

Banyak pernak-pernik sembahyang Qing Ming yang tak boleh dilewatkan. Sebelum melakukan sembahyang, peziarah biasa melaksanakan ritual hari menyapu kuburan, ritual ini biasa dikenal dengan ritual bersih terang (Qing Ming).
Memasuki hari bersih terang, warga berdoa di depan makam leluhur dan menyapu pusara. Para peziarah di hadapan makam leluhur tak lupa menyajikan makanan, teh, arak, dupa, kertas tek untuk sembahyang. Semuanya dipersembahkan untuk leluhur.
Dahulu, ritual bersih terang biasa dijalani warga Tionghoa terutama dari kalangan petani. Biasanya mereka menjalankannya 10 hari sebelum atau sesudah hari Qing Míng. Namun saat ini ritual itu lazim dijalani semua masyarakat Tionghoa dari berbagai kalangan.

Hemat Biaya
Dikutip dari wikipedia.org, hari bersih terang diciptakan oleh Chong'er, Bangsawan Wen dari negara Jin  pada masa periode musim semi dan musim gugur (Chunqiu).
Ceritanya nyaris sama dengan sejarah Qing Ming, tentang tragedi pembakaran hutan yang akhirnya tercipta tradisi makan dingin.
Sumber lain, menyatakan, tradisi Qing Míng diciptakan oleh Kaisar Xuanzong  pada tahun 732 (Dinasti Tang). Motivasi tradisi Qing Ming, karena orang China kuno mengadakan upacara pemujaan nenek moyang dengan cara terlalu mahal dan rumit. Dalam usaha untuk menurunkan biaya tersebut, Kaisar Xuanzong mengumumkan penghormatan tersebut cukup dilakukan dengan mengunjungi kuburan nenek moyang pada hari Qing Míng. (Rani Setianingrum)

berbagi di Facebook :
Share
berbagi di Twitter :
berbagi di Google + :