Mama..Mama, kenapa pohon itu bisa bergerak,” tanya Athaya kepada sang Mama ketika sedang berada di dalam bus. Lalu dengan lemah lembut ibunya menjawab, “Yang berjalan itu bukan pohonnya, tapi bus yang kita naiki,” jawab Mama Athaya.
“Kok bus bisa berjalan,” tanya kembali si Athaya. “Kan busnya ada yang menjalankan,” jawab kembali sang Mama. “Yang menjalankan bus siapa, Ma?,” tanya lagi.
“Namanya pak supir yang duduk di bagian depan,” jawab Mama Athaya. Athaya pun terus bertanya, bahkan hingga turun dari bus, anak tersebut masih terus bertanya tanpa henti-henti.
Hayo, pasti adik-adik ketika masih kecil juga gemar bertanya baik kepada Mama, Papa, atau dengan orang yang lebih tua. Apa yang dilakukan oleh adik-adik adalah hal yang wajar dan memang begitulah seharusnya.
Bapak Soleh Amini Yahman, psikolog dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kepada Joglosemar mengatakan bahwa ada empat faktor yang mendorong seorang anak banyak bertanya-tanya.
“Pertama, untuk mendapatkan perhatian dari orangtua. Ketika seorang anak merasa keberadaannya tidak dipedulikan, biasanya anak akan secara demonstratif merajuk kepada orangtuanya dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan tertentu, “ urai Pak Soleh.
Oleh sebab itu, kadang apa yang dilakukan anak hanya sebagai upaya pengalihan perhatian terhadap keberadaan dirinya. Dalam kondisi tidak atau kurang diperhatikan anak sering nyelani ketika orangtua sedang berbincang dengan tamunya atau dengan orang lain.
“Yang kedua, dorongan curiousity yang sangat tinggi. Curiousity adalah naluri anak untuk membedah dan menjelajah dunia. Anak ingin tahu segala hal yang ada di sekelilingnya. Dengan kepolosan dan keluguhanya, anak bertanya tentang apa saja sampai merasa mendapatkan jawaban yang sesuai dengan pengetahuan yang dimiliki, “ papar Pak Soleh.
Kemudian, tambah Pak Soleh, jika keingintahuan ini tidak tuntas, maka anak tidak akan pernah ‘diam’, anak akan mengejar jawaban sampai ia merasa jawabannya adalah sesuai dengan pengetahuannya.
“Bila jawaban yang diperoleh ternyata out of frame (berbeda dengan pengetahuan anak-red) anak juga tidak akan berhenti bertanya, dia akan bertanya dan mengarahkan pertanyaannya terus hingga anak merasa mendapat peneguhan atau konfirmasi positif atas pengetahuan yang dia miliki, jadi kesan yang tertangkap dalam dinamika tanya jawab ini adalah anak ngeyelan,” terang Pak Soleh.
Pak Soleh menambahkan, anak mungkin memang akan diam dan orangtua merasa nyaman, tetapi sesunguhnya orangtua telah membunuh potensi positif pada diri anak untuk menjadi penjelajah dunia yang hebat, dan memformat mereka menjadi anak yang apatis, pemberontak dan perusak,” jelas Pak Soleh
Yang ketiga, lanjut Pak Soleh adalah anak bertanya karena memang benar-benar ingin tahu jawaban atas suatu persoalan atau permasalahan yang benar-benar tidak tahu jawabannya.
“Keempat, anak bertanya karena ingin mendapatkan peneguhan atas pengetahuan tertentu yang dia miliki. Dalam konteks ini, anak sebenarnya sudah tahu jawaban atas pertanyaan yang dia ajukan, namun dia ingin mendapat peneguhan (konfirmasi positif) atas pengetahuannya,“ urainya.
Jadi, tidak benar sama sekali kalau ada yang mengatakan bahwa anak yang banyak bertanya adalah tanda-tanda anak itu bodoh. Justru sebaliknya anak yang banyak bertanya adalah merupakan tanda-tanda bahwa anak itu cerdas. (Dwi Hastuti)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |







