Rabu, 08/09/2010
PT JOGLOSEMAR PRIMA MEDIA | Jalan Setia Budi No. 89 Gilingan, Banjarsari, Surakarta | Telp. 0271-717141, 0271-720496 dan 0271-741926 | Fax. 0271-741696 | website : www.harianjoglosemar.com | email : redaksi@harianjoglosemar.com | Baca berita seputar ramadhan pada menu Umum -- Mozaik Ramadhan --

Anak Lumpuh Sejak Lahir Harta Ludes, Suami Malah Ngacir Kawin Lagi

Senin, 08/03/2010 09:00 WIB - Eko Sudarsono

Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Peribahasa itulah yang mungkin dirasakan oleh Tugiyem (58), warga Jatibedug RT 3/III, Manyaran. Sudah anaknya, Sri Rahayu (30) lumpuh sejak lahir, masih harus menghidupi tiga anaknya dan mengurusi ibunya yang sudah jompo, eh, suaminya, Kromo Suwito (60) malah kawin lagi dan menetap di Solo.
Tugiyem memang sempat berjuang menghadapi kelumpuhan anaknya selama hampir 30 tahun. Sejak lahir, tubuh Sri terkulai seakan tak bertulang. Merasa ada sesuatu yang ganjil pada bayinya, Tugiyem dan suaminya mengupayakan penyembuhan lewat “orang pintar”.
“Namine tiyah sepah, Mas. Pingine nggih pripun usahane supados anak kula saget limrah tiyang. Puskesmas nggih nate, tapi kathah-kathahe dibeta teng ‘wong tuwa’ (dukun – red),” kata Tugiyem saat ditemui di rumahnya, Sabtu (6/3).
Sejak kecil hingga usia Sri mencapai 20-an, usaha penyembuhan lewat “orang pintar” terus dilakoni oleh Tugiyem dan suaminya. Setelah kambingnya ludes untuk berobat, orang tua Sri bahkan menjual sapi dan lahan persawahan. Tak hanya itu, isi rumah pun ludes terjual demi kesembuhan putri tercintanya.
“Pokoke mpun nelaske napa-napa. Nggih menda, lembu, sabin. Napa sing enten ngomah nggih katut, kursi roda saking pemerintah (Dinsos – red) nggih katut. Ning nggih boten kasil napa-napa. Turene wong tuwa, niki mpun kodrate Sri boten saget diobati,” ujarnya sembari mengelus kaki Sri yang tiap hari tidur di atas dipan bambu usang.
Komunikasi dengan anaknya itu pun tidak selancar orang pada umumnya. Tugiyem hanya menafsirkan dari teriakan anaknya itu. Sejak Sri kecil, dia sudah hafal keinginan anaknya itu lewat teriakan. Saat minta makan, lauk tidak cocok atau saat ingin buang air, teriakan Sri selalu berbeda-beda.
Jika tidak mau makan, Sri biasanya menyorongkan piring dengan kepalanya saat disuapi. Meski lumpuh, Sri masih bisa menggerakkan kepalanya. Bahkan saat didekati wartawan, dia pun tertawa.
Repotnya kalau mandi, Tugiyem memang harus menggendongnya ke belakang. “Kalau mandi ya setiap hari, saya gendong ke belakang. Tapi kalau hanya buang air kecil, kadang-kadang di tempat ini saja,” ujarnya.
Tempaan hidup Tugiyem memang dirasakan sungguh keras. Selain harus meladeni dua orang tak berdaya di rumahnya, ia harus menghidupi keluarganya itu dengan menjadi buruh tani di sawah tetangganya.
“Saya kadang memang mengeluh, kalau nanti saya mati, siapa yang akan mengurusi Sri?” ujarnya.
Ia sangat berterima kasih karena selama ini mendapatkan bantuan Rp 300.00 per bulan dari Dinas Sosial Kabupaten Wonogiri. Namun begitu, beban Tugiyem rasanya memang jauh terlalu berat. Apalagi, ketika suaminya tak lagi di sampingnya lantaran kawin lagi, bebannya terasa semakin berat.
“Mbok saya minta tolong, dicarikan jalan supaya Sri dapat sembuh,” ujarnya penuh harap. (Eko Sudarsono)