Sebanyak 113 siswa-siswi kelas 3 hingga kelas 6 SDN III Wonogiri yang beragama Islam Jumat (3/9) kemarin berkumpul di pelataran sekolah dengan menenteng ember berisi air.
Tidak lama, beberapa guru menyodorkan bubuk deterjen. Akhirnya, sepatu dilepas dari kaki dan masing-masing dari mereka mengeluarkan sarung, lalu dicuci bersama-sama. Sarung selain ada yang milik sendiri, juga sarung milik orangtua murid.
Jadilah, halaman sekolah tersebut menjadi ajang cici massal. Ma’ruf, siswa kelas 4 mengaku mencuci pakaian juga dilakukannya di rumah. Dia dan teman-temannya yang lain tampak serius mencuci, jauh dari kesan main-main.
Lucunya, saat memeras cucian, ada beberapa anak yang tidak kuat, dan harus bergotong royong. “Saya juga kadang mencuci sendiri di rumah,” ujar Ma’ruf.
Sebelum pencucian massal itu dimulai, anak-anak melemparkan sarung mereka ke udara sembari berteriak. Itu luapan kegembiraan mereka karena akan memasuki masa libur setelah selama seminggu turut dalam pesantren kilat.
Penggagas kegiatan tersebut, Mayor Haristanto mengatakan, aksi mencuci sarung bersama tersebut dimaksudkan untuk mengajak anak-anak agar tahu bagaimana mencuci. Terlebih anak-anak sekarang makin tidak akrab dengan salah satu pekerjaan rumah yang harusnya bisa dilakukan mereka sendiri. Pun mengajak anak berpikiran bahwa tak harus semua baru saat Lebaran tiba.
“Ini merupakan bentuk belajar secara konkret. Sekaligus melatih bergotong-royong. Edukasi alternatif yang menghibur. Hitung-hitung juga kampanye bahwa bersih itu sehat. Yang juga tak kalah penting, saat salat Id anak-anak bisa memahami bahwa tidak semua yang dikenakan harus baru. Asal bersih, sarung contohnya, bisa dipakai,” ungkap siswa SDN III Wonogiri di tahun 1970-an itu. (Eko Sudarsono)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |







