Minggu, 12/02/2012
PT JOGLOSEMAR PRIMA MEDIA | Jalan Setia Budi No. 89 Gilingan, Banjarsari, Surakarta | Telp. 0271-717141, 0271-720496 dan 0271-741926 | Fax. 0271-741696 | website : www.harianjoglosemar.com | email : redaksi@harianjoglosemar.com
<div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div> <div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div> <div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div>

Akulturasi Harmonis Budaya Jawa dan China

Senin, 08/02/2010 11:00 WIB - Arifin

Warna merah mendominasi dan memenuhi Jalan Urip Sumoharjo, mulai dari depan Pasar Gede hingga perempatan Warung Pelem, Minggu (7/2) siang. Jalan RE Martadinata tak ingin kalah memamerkan warna merah dengan hiasan oriental. Puluhan kelompok kesenian barongsai dan liong mulai menari-nari mengikuti alunan musik etnik.
Tidak hanya itu, dua buah gunungan kue ranjang diarak ratusan warga melewati jalan mengelilingi Pasar Gede sejak pukul 15.00 WIB. Dua gunungan bernama Gunungan Lanang dan Gunungan Estri itu terdiri dari 4.000 kue ranjang, jajanan khas etnis Tionghoa. Rangkaian kirab itu merupakan tradisi dalam Kirab Grebeg Sudiro.
Kegiatan budaya tersebut semakin menguatkan citra Kota Solo sebagai kota budaya dan kota pariwisata.
Kirab yang digelar untuk ketiga kalinya ini melibatkan puluhan kelompok kesenian baik dari dalam maupun luar kota Solo. Kesan unik terlihat dari adanya kolaborasi antara kesenian budaya Jawa dan budaya China.
Betapa tidak, kirab yang dimulai dari Pasar Gede ini menampilkan kesenian Jawa yang terdiri dari kesenian Reog Ponorogo, kesenian Topeng Ireng, Kelompok Batik Carnival, kelompok Kesenian Merbabu dan kelompok Sepeda Onthel Tempo Doeloe. Sementara kesenian asli China yang ditampilkan yakni kesenian barongsai, kelompok liong, lampion raksasa, serta pernak-pernik khas negeri tirai bambu tersebut.
Kirab yang diselenggarakan oleh Kelurahan Sudiroprajan, Panitia Imlek Bersama serta Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta tersebut telah menjadi agenda budaya rutin setiap tahunnya. “Kegiatan budaya Kirab Grebeg Sudiro ini sudah menjadi agenda tahunan Pemkot Surakarta untuk menyambut Tahun Baru Imlek,” ujar Wakil Walikota Surakarta, FX Hadi Rudyatmo, pada sambutan pembukaan Grebek Sudiro di depan Pasar Gede.
Melestarikan Budaya
Kirab tersebut merupakan langkah yang sangat bagus untuk menyatukan dua budaya yang berbeda dalam sebuah kebersamaan. Sehingga kegiatan itu merupakan salah satu langkah untuk menjaga dan melestarikan kebudayaan bangsa Indonesia. “Semoga hal ini dapat menjaga persatuan dan kesatuan, sehingga kesejahteraan masyarakat Kota Solo selalu tercipta,” imbuhnya.
Setelah matahari mulai condong ke barat, acara Grebeg Sudiro pun sampai pada puncaknya. Dua buah gunungan kue ranjang tersebut diperebutkan oleh ratusan warga yang memadati Pasar Gede. Selain itu, panitia juga membagi-bagikan 4.000 kue ranjang tersebut kepada warga yang telah menanti berjam-jam.
Tak heran jika persimpangan Pasar Gede seketika menjadi riuh dan ramai oleh warga yang saling berebut kue ranjang. Walaupun terlihat saling berebut, namun acara itu berjalan dengan lancar dan sama sekali tidak ada kericuhan antar warga. (Arifin)

berbagi di Facebook :
Share
berbagi di Twitter :
berbagi di Google + :