Pada suatu ketika Nana dan Mita sedang asyik bermain. Tiba-tiba Mita mengeluh perutnya sakit. Nana pun segera bergagas mendekatinya, “Mita sakit apa?,” tanya Nana. Dengan nada yang penuh kesakitan, Mita menjawab, “Perutku sakit,” jawab Mita.
Meski mereka berdua masih duduk di bangku Taman Kanak-Kanak (TK), Nana langsung menunjukkan sikap perhatian dan rasa sayangnya kepada Mita. Nana pun langsung mengelus-elus perut Mita lalu menggandeng Mita untuk menuju ruang P3K. ”Mita, aku antar ya, supaya nanti bisa segera diobati,” tutur Nana.
Wah ternyata Nana memiliki rasa perhatian dan kasih sayang kepada temannya. Hayo siapa yang ingin seperti Nana? Meski usia Nana masih kecil, Nana sudah bisa berempati kepada teman sebayanya. Hal tersebut dikarenakan Nana selalu dididik dalam keluarga yang penuh dengan kasih sayang.
“Kalau pagi dan malam, saya bersama Papa, Mama dan kakak selalu makan bersama. Namun kalau untuk siangnya tidak bisa makan bersama karena waktu pulang sekolah saya dan kakak berbeda,” ucap Nana.
Selain makan bersama, setiap habis makan malam atau ketika ada waktu longgar pun Nana bersama keluarganya juga selalu menyempatkan waktu untuk berkumpul bersama. Misalnya menonton televisi bersama. Atau kalau waktu liburan Nana sekeluarga piknik bersama. “Biasanya kalau sore itu kami sekeluarga kumpul bersama sambil menyaksikan acara televisi,” ceritanya.
Nana merasa bahagia ketika dapat menghabiskan waktu bersama keluarganya. Sehingga Nana merasa nyaman untuk bergaul dengan teman-temannya, bersendau gurau serta dapat menikmati kasih sayang dari orangtuanya. “Kalau kita bisa selalu ngumpul dengan keluarga rasanya nyaman,” kata Nana.
Mengajari anak untuk mengenal kasih sayang tidak perlu melalui sikap yang muluk-muluk tetapi dari hal yang sederhana. Karena justru dari hal yang sederhana, anak dengan mudah untuk merasakan, mencerna dan gampang untuk mengingatnya. Misalnya makan bersama dengan anggota keluarga, nonton televisi bersama, berbelanja bersama atau piknik bersama.
Melalui hal yang sederhana tersebut anak akan dengan mudah untuk merasakan bagaimana pentingnya kasih sayang. Selain itu, dengan kasih sayang dan perhatian yang cukup maka menutup kemungkinan anak untuk mencari perhatian dari yang lain.
Hal ini bisa berakibat fatal, jika anak lari ke dalam hal-hal yang negatif.
Kebutuhan Afeksi
Hal tersebut dibenarkan oleh Ibu Nanik Prihartanti, psikolog dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Ibu Nanik mengatakan bahwa dengan kita memberikan kasih sayang kepada sang anak, maka secara tidak langsung mampu mencegah perilaku kekerasan pada diri sendiri maupun terhadap orang lain.
Ibu Nanik juga menambahkan bahwa dengan pola didikan yang penuh dengan perhatian dan kasih sayang dipastikan kebutuhan afeksi dapat terpenuhi. “Secara psikologis anak-anak itu lebih butuh kasih sayang dan perhatian jika dibanding dengan materi,” terang Ibu Nanik.
“Usahakan jangan lupa dengan kebutuhan afeksi anak jangan hanya materi, karena anak juga butuh pemenuhan afeksi. ”Tapi jangan lupa kasih sayang itu tidak identik dengan memanjakan,”ujarnya.
Kasih sayang itu mudah dilakukan, misalnya dengan cara dibelai, senyum serta dicium maka si anak akan merasa bangga. “Karena dengan belaian lembut dari orangtua, maka anak akan merasa senang karena mendapatkan kasih sayang dari orangtuanya”, urainya.
Nah gimana dengan adik-adik? Mulai sekarang adik-adik juga harus belajar memberikan perhatian dan kasih sayang kepada teman dan saudara. (Dwi Hastuti)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |







