Senin, 13/02/2012
PT JOGLOSEMAR PRIMA MEDIA | Jalan Setia Budi No. 89 Gilingan, Banjarsari, Surakarta | Telp. 0271-717141, 0271-720496 dan 0271-741926 | Fax. 0271-741696 | website : www.harianjoglosemar.com | email : redaksi@harianjoglosemar.com
<div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div> <div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div> <div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div>

Ajang Pemilihan Putra Putri Solo Tak Sekadar Berebut Gelar

Rabu, 28/07/2010 22:36 WIB -

Oleh
Darumas Aulia Sandi Rimba

Seiring dengan pesatnya perkembangan Kota Solo, yang terlihat dari bermunculannya event-event budaya menyulut gairah generasi muda untuk menggali lebih dalam potensi kebudayaan yang diwariskan kota ini. Solo yang makin hari makin menunjukkan citra The Spirit of Java–nya, mulai menjadi destinasi utama turis domestik maupun mancanegara. Hal ini disambut dengan sigap oleh pemuda-pemudi yang telah bersiap dengan baik secara mental maupun materi pengetahuan untuk menyandang gelar Putra Putri Solo. Sebuah kebanggaan tersendiri bagi remaja yang berhasil mengenakan selempang Putra Putri Solo dengan tanggung jawabnya untuk mempromosikan Kota Solo dengan kapasitas mereka sebagai Duta Wisata.
Pemilihan duta wisata kota yang telah berlangsung sejak 1985 ini melandaskan kepribadian sebagai persyaratan utamanya. Tak hanya Brain, Beauty, Behaviour dan Brave yang harus tercermin dalam tingkah laku dan santun bahasa para putra-putri, rasa kecintaan dan kepedulian pada lingkungan dan sosial menjadi nilai utama harapan masyarakat kota. Sehingga masyarakat berharap sosok pemenang adalah sebuah pribadi yang kreatif, inovatif, serta dapat berperan aktif dalam kepariwisataan.

Kurang Puas
Ekspektasi yang begitu tinggi inilah yang membuat para remaja, bahkan masyarakat pada umumnya menganggap pemilihan ini cukup prestisius. Seiring anggapan tersebut, putra-putri ini bertanggung jawab akan selempang dan mahkota yang diberikan. Mereka menjadi buah bibir yang hangat pada setiap musim pemilihannya. Namun, tak sedikit pula kelompok masyarakat yang kurang puas terhadap hasil penjurian pemenang. Terkadang lontaran pernyataan menjatuhkan yang ditujukan kepada putra-putri Solo, seakan mempertanyakan kinerja dan sumbangsih pemuda-pemudi ini di bidang kepariwisataan kota selama setahun masa jabatannya.
Beragam pendapat mengenai kinerja para duta wisata bermunculan. Beberapa di antaranya menganggap bahwa duta wisata hanya sebagai pajangan. Paguyuban Putra Putri Solo menjawab pendapat-pendapat tersebut dengan keseriusan dan kepeduliannya terhadap lingkungan sosial dan budaya. Para Putra Putri Solo telah dibiasakan sejak dari masa pembekalan mengunjungi tempat-tempat pariwisata dan kebudayaan.
Tidak berhenti sampai di situ, mereka juga melakukan kunjungan-kunjungan ke pemukiman-pemukiman tidak layak huni. Para duta wisata ini diajak pula untuk mengetahui keadaan masyarakat yang berada di Kota Solo. Kegiatan ini juga merupakan upaya Putra Putri Solo untuk menunjukkan eksistensinya di tengah masyarakat mengingat mungkin selama ini masyarakat Solo tidak begitu akrab dengan mereka. Sekaligus mematahkan anggapan bahwa ajang pemilihan seperti yang mereka ikuti semata-mata hanyalah bentuk pemborosan anggaran pemerintah daerah.
Putra-putri yang sudah melalui beragam pembekalan ini menunjukkan kepeduliannya dalam bidang budaya. Antara lain memberikan pelatihan menari kepada anak-anak, mengajar aksara Jawa kepada para remaja. Menjadi duta wisata bukan berarti identik dengan ke luar negeri maupun ke luar kota untuk berpromosi. Esensi sesungguhnya adalah saat para duta wisata ini mengaplikasikan pengetahuan pariwisata mereka kepada semua lapisan masyarakat, bukan hanya kepada para turis. Mungkin satu hal yang belum akrab dengan kegiatan sosial lingkungan para putra-putri ini adalah media itu sendiri.
Namun, dalam delapan hari pembekalan semifinalis dan finalis Putra Putri Solo, paguyuban mulai menyeberangi area media cetak dan elektronik agar lebih bersahabat lagi dengan media. Sedikit lebih  jauh ke depan, setelah saya pribadi terjun dalam ajang Pemilihan Putra Putri Solo 2010 ini, saya melihat esensi dalam pemilihan ini bukan sekadar pada kompetisi untuk memperebutkan gelar.
Menjadi anak muda yang berbudaya bukan berarti harus menjadi pribadi yang fasih akan tarian, tembang, maupun warisan budaya Jawa yang lain. Namun bersama dengan sikap positif yang berpandangan maju ke depan, peka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek), dan tetap menjunjung nasionalisme tinggi.
Wujud anak muda “berbudaya” itu sendiri adalah dengan sadar kita menghadirkan nuansa budaya Jawa sebagai ruh dan jiwa diri. Putra Putri Solo merupakan satu di antara event-event kota yang dihadirkan oleh pemerintah kota yang secara langsung menggembleng mental generasi muda agar tetap berbudaya dalam segala peri kehidupannya. Di masa mental dan kepribadian generasi muda hampir terenggut  budaya asing, saya merasakan ada di antara jiwa-jiwa yang sadar dan mau belajar untuk ikut melestarikan budaya Jawa terlihat di pancaran mata dan semangat teman-teman seperjuangan saya. Teman-teman finalis, semifinalis, dan angkatan atas Putra Putri Solo 2010.

*Penulis adalah finalis Putra Putri Solo 2010

 

berbagi di Facebook :
Share
berbagi di Twitter :
berbagi di Google + :