Adik-adik, sudah pernah mendengar kata-kata mengenai pelecehan seksual belum? Aduh, itu maknanya apa ya? Kalau adik-adik belum mengetahuinya, yuk kita pelajari bersama-sama.
Pelecehan seksual itu adalah setiap bentuk perilaku yang memiliki muatan seksual yang dilakukan seseorang atau sejumlah orang namun tidak disukai dan tidak diharapkan oleh orang yang menjadi sasaran.
Dari pelecehan seksual tersebut menimbulkan akibat negatif, seperti rasa malu, tersinggung, terhina, marah, kehilangan harga diri, kehilangan kesucian dan sebagainya. Ngeri kan? Tentunya adik-adik pasti tidak mau, kan?
Lantas contoh perbuatan yang menunjukkan kalau itu pelecehan seksual itu apa sich? Wah contohnya banyak sekali, mulai dari siulan nakal seorang laki-laki terhadap perempuan, lelucon-lelucon cabul, perilaku meraba-raba tubuh dengan tujuan seksual, pemaksaan dengan ancaman kekerasan atau ancaman lainnya agar korban bersedia melakukan hubungan seksual, serta sampai pemerkosaan.
Lalu kenapa kok banyak anak-anak yang menjadi korban dari pelecehan seksual? Menurut Ibu Juliani Prasetyaningrum, Psikolog dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) bahwa secara psikologis anak-anak itu mudah untuk dibohongi. Selain itu anak-anak mudah dibujuk dan dirayu.
“Anak-anak itu kan mudah dirayu, mungkin dengan diberi makanan, lalu diberi permen atau diberi uang seribu saja sudah mau diajak pergi,” terang Ibu Juliani saat ditemui Joglosemar di kediamannya, daerah Laweyan.
Organ Tubuh
Jadi, penting buat adik-adik jangan mudah dirayu baik itu oleh orang yang dekat atau yang belum dikenal. Karena sesuai fenomena yang sering terjadi, pelaku pelecehan seksual itu bisa dari kerabat atau tetangga sendiri.
Karena orang-orang dekat tersebut tidak mungkin dicurigai. Namun, tak bisa dimungkiri pelaku pelecehan seksual juga bisa dari mereka yang belum kenal dengan kita. “Sehingga kalau diajak orang lain ke tempat sepi, atau ke kamar atau ke tempat-tempat yang jauh dari rumah jangan mau” imbuhnya.
Selain, ketika adik-adik main di luar rumah kemudian ada yang memegang alat kelamin adik-adik maka adik-adik teriak saja. Supaya yang memegang tersebut takut dengan teriakan adik-adik. “Kalau adik-adik diam maka orang lain tidak tahu, sehingga dengan teriakan tersebut orang-orang akan mendengar dan akan menolong kita,” tambah Ibu Juliani.
Penting juga yang perlu dilakukan untuk menghindari pelecehan seksual adalah untuk mengenali organ tubuh. Baik organ tubuh luar maupun organ intim.
Dengan mengetahui nama-nama anatomi tubuh juga perlu dikenal bagian mana yang tidak diperbolehkan disentuh oleh orang lain. “Misalnya orangtua bisa menasihati putra-putri kalau alat kelaminnya jangan boleh dipegang oleh orang lain,” terang Ibu Juliani.
Selain itu, usahakan untuk mengenakan pakaian rapat. Karena anak-anak itu geraknya aktif, sehingga usahakan meski yang perempuan mengenakan rok, maka juga pakailah celana yang rapat. Supaya ketika bergerak alat kelaminnya tidak kelihatan.
Lalu orangtua juga bisa membangun kebersamaan dengan tetanggga untuk saling menjaga antara satu sama lain. “Orangtua bisa menjalin hubungan yang baik dengan tetangga sekitarnya. Jadi antara tetangga satu dengan tetangga lain pun juga turut menjaga lingkungan dan saling menjaga putra-putri kita,” tandasnya. n
|Dwi Hastuti|hastuti_uns86@yahoo.com|
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |







