Jumat, 18/05/2012
PT JOGLOSEMAR PRIMA MEDIA | Jalan Setia Budi No. 89 Gilingan, Banjarsari, Surakarta | Telp. 0271-717141, 0271-720496 dan 0271-741926 | Fax. 0271-741696 | website : www.harianjoglosemar.com | email : harianjoglosemar@gmail.com

Ada Chemistry Dengan Bank

Minggu, 21/03/2010 09:00 WIB - Dwi Hastuti

Terlahir dari keluarga pas-pasan dia terobsesi untuk mandiri dalam hal finansial. Doa dan kerja kerasnya akhirnya terkabul. Dialah, Rachmursito si penjelajah dunia perbankan dari titik nol hingga menjadi pimpinan cabang Bank Bukopin Solo seperti saat ini.
Setidaknya, sudah 21 tahun waktu hidupnya dia fokuskan dari bank ke bank lain. Sedikitnya sembilan daerah di Indonesia menjadi catatan pengembaraannya di dunia perbankan.
Bagi Mursito, biasa dia disapa, dunia bank seperti sudah ada chemistry dengan jiwanya. Menurutnya, meski banyak pilihan dunia kerja yang lain, namun dunia perbankan telah memikat dan dia merasa tak bisa pindah ke dunia kerja lain. ”Sepertinya takdir saya memang di dunia perbankan,” ujarnya saat berbincang dengan Joglosemar.
Ketertarikannya dengan dunia perbankan, kata dia, juga tak lepas dari kebijakan pemerintah tentang Paket Deregulasi Perbankan Indonesia Tahun 1983 – 1997. Kebijakan itu mengacu pada kondisi perekonomian Indonesia yang masih pasang-surut. ”Dengan kebijakan itu, banyak bank dengan modal tak terlalu besar bisa berdiri. Momen itulah sebagai pembuktian insan perbankan untuk bangkit,” katanya.

Kisah Getir
Namun, sebelum kesuksesan diraih, Mursito, mempunyai kisah getir dalam kehidupannya. Bisa jadi kisah getir inilah yang menjadi motivasi ampuhnya untuk menapaki kesuksesan yang dia raih seperti saat ini.
Pernahkah mendengar pameo, ”banyak anak, banyak rezeki?”. Entah terbukti benar atau tidak, namun pameo klasik ini dialami sendiri oleh Mursito. Bos Bukopin Solo ini terlahir dari keluarga besar. ”Saya anak ke-16 dari 17 bersaudara. Kondisi keluarga saya ya pas-pasan. Bapak seorang pengusaha batik, namun tak begitu sukses,” tuturnya.
Mursito merupakan putra pasangan Almarhum Prijo Rahardjo dan Siti Rahayu. Almarhum Prijo Rahardjo merupakan salah satu pengusaha batik di Laweyan, namun kala itu usaha batik belum begitu menggairahkan seperti saat ini. ”Usahanya pas-pasan. Saya hanya diberi kesempatan bersama Bapak tiga tahun, setelah itu beliau dipanggil Allah,” kenangnya.
Usaha produksi batik tersebut tak bertahan lama. Sang Ibu, Siti Rahayu, mengalihkan dari usaha produksi ke usaha dagang batik. ”Dibantu sama saudara-saudara saya. Itu pun juga tak lama, karena ketika saya duduk di bangku SMP, Ibu menyusul Bapak,” tuturnya.
Kehilangan kedua orangtua, tak membuat Mursito patah semangat. Untuk mengejar impiannya, dia bersama saudara-saudaranya tak canggung untuk kerja serabutan. ”Kakak-kakak saya yang terus menyemangati, hingga akhirnya saya merampungkan studi di Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) dengan meraih gelar sarjana ekonomi (SE),” tandasnya.

Awal Karier
Perjuangannya akhirnya membuahkan hasil. Usai lulus dengan gelar sarjana ekonomi, Mursito sukses melenggang di kantor Bank Bukopin Cabang Solo. Sejak itulah, kariernya di dunia perbankan dimulai. Setahap demi setahap dia menapaki karier. Dan sekitar sembilan kota di Indonesia disinggahinya dalam berproses meniti karier perbankannya. ”Mungkin di dunia perbankan ini pula yang mendewasakan saya,” kata dia.
Menurutnya, bekerja di sektor perbankan tidak mudah. Untuk kuat bertahan di dunia perbankan, dia menjunjung prinsip kejujuran, ketelatenan dan tekad kuat untuk terus belajar.
Dari penjelajahan di berbagai kota itu, dia menyimpan kesan mendalam pada salah satu kota yang pernah disinggahinya. ”Kota itu adalah Tegal. Karena di sana saya benar-benar bangkit mulai dari nol. Saya harus mencari lokasi, membuat kantor, mencari izin, membuat studi kelayakan serta rekruitmen karyawan,” kisahnya. ”Pengalaman itulah yang tidak bisa saya lupakan dalam hidup saya.”
Selain pengalaman dunia perbankan, Mursito mengaku belajar banyak dari semua kota persinggahannya. ”Yang pasti saya beruntung belajar tentang karakter masyarakat dan budaya kota setempat. Itu penting untuk dunia perbankan, meski tak pernah diajarkan secara teori,” katanya.
Hidup berpindah-pindah demi mengejar karier, diakuinya tak mudah. Selain memegang prinsip yang telah ia sebutkan sebelumnya, ada kekuatan lain yang membuatnya bertahan hingga ke gerbang kesuksesan. Kekuatan itu adalah support dari keluarga. Tak tanggung-tanggung, dia mencatat sekitar 12 tahun hidup dengan meninggalkan keluarga untuk menjalankan tugasnya. ”Selama saya tugas di luar kota saya tidak mengajak mereka, keluarga tetap tinggal di Solo,” terangnya.
”Kalau keluarga tidak merestui, maka saya juga tidak mungkin bisa keluar kota hingga belasan tahun itu,” lanjut dia.
Namun, berasal dari Solo, akhirnya Mursito pun kembali ke Solo. Kariernya saat ini sebagai pimpinan cabang Bank Bukopin Solo. Dia membawahi sekitar 200 karyawan. Kini, putra pengusaha batik yang suram itu, menjadi panutan ratusan karyawan Bank Bukopin Solo. (Dwi Hastuti)

berbagi di Facebook :
Share
berbagi di Twitter :
berbagi di Google + :