SRAGEN—Sekitar 75 persen awak angkutan pedesaan di wilayah Gemolong berhenti beroperasi karena bangkrut. Dari 57 armada yang ada, kini hanya tinggal 13 armada yang masih beroperasi.
Sementara, 40 armada lainnya resmi berhenti beroperasi sejak beberapa tahun terakhir. Menurunnya jumlah penumpang menjadi alasan utama pemilik armada untuk memilih berhenti.
Data di UPTD Terminal Gemolong mencatat dari delapan trayek yang ada, kini hanya ada lima trayek yang armadanya masih bertahan. Sedang tiga trayek lainnya sudah berhenti total karena sepinya omzet.
Dari lima trayek yang bertahan itu, jumlahnya armadanya juga menyusut lebih dari 50 persen. Seperti trayek nomor 9 jurusan Gemolong-Gilirejo yang semula terdapat 10 armada kini hanya tinggal tiga armada yang masih bertahan. Lebih tragis lagi untuk trayek 12 jurusan Gemolong-Gabugan yang semula terdapat 12 armada, kini bahkan hanya tinggal 1 unit saja yang masih bertahan. Itu pun dengan nasib yang kembang kempis.
Sriyanto (43) salah satu sopir angkutan jurusan Gemolong mengatakan saat ini ia hanya bertahan daripada tak punya pekerjaan. Namun melihat perkembangan pendapatan yang semakin turun tidak menutup kemungkinan ia juga akan menghentikan usahanya.
“Sudah ndak cucuk lagi mas. Sehari kadang cuma dapat Rp 15.000 sampai Rp 20.000 saja. Padahal biaya operasi dan bahan bakar sudah tinggi, “ujarnya kepada Joglosemar Rabu (24/3).
Kepala UPTD Terminal Gemolong, Endro Rusmono membenarkan adanya penyusutan jumlah armada. Menurutnya ada beberapa faktor yang mempengaruhi sepinya penumpang.
“Sekarang orang lebih memilih kredit sepeda motor yang uang mukanya juga ringan. Selain itu adanya kemajuan teknologi informasi membuat orang-orang yang baru pulang dari kerja atau luar kota, lebih memilih menelepon untuk dijemput daripada naik angkutan,” tandas Endro. (yok)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |







