Di tengah kekhawatiran terhadap situs sejarah dan cagar budaya yang mulai terancam keberadaannya, ternyata masih ada lembaga yang konsisten melakukan upaya pelestarian.
Memasuki tahun ke-40, Yayasan Mangadeg, Surakarta terus melakukan aktivitas dalam menggali, meneliti, serta merevitalisasi warisan budaya yang dimiliki Pura Mangkunegaran. Di antaranya dalam bentuk penerjemahan, penerbitan, dan penyalinan naskah-naskah kuno.
Selain pelestarian naskah kuno, Yayasan Mangadeg juga melakukan upaya pemeliharaan fisik, seperti melakukan pemugaran serta pembangunan astana dan situs-situs perjuangan pendiri Praja Mangkunegaran.
Kontribusi nyata terhadap pemeliharaan bangunan-bangunan kuno, Yayasan Mangadeg pernah melakukan renovasi Astana Mangadeg, Wisma Kudanawarsa, serta Masjid Khasan Nur Iman. Selain itu juga upaya pemeliharaan terhadap Gapura Adiroso serta pemugaran makam KPA Mangkunegaran di Istana Imogiri, Yogyakarta.
Pada peringatan ke-40 yang dilaksanakan Kamis (29/10), Ketua Yayasan Mangadeg Surakarta Perwakilan Daerah Jawa Tengah dan DIY, KPAA Begug Poernomosidhi, menyatakan, saat ini masih ada beberapa situs perjuangan yang perlu dilakukan renovasi. Salah satunya Pura Mangkunegaran. “Perlunya renovasi, konservasi, dan revitalisasi Istana Mangkunegaran sebagai salah satu pusat budaya warisan leluhur,” ungkapnya.
Pada acara ini dilakukan penyerahan piagam penghargaan kepada sejumlah juru kunci dan marbot (pengurus) Astana yang dianggap telah bekerja penuh pengabdian. (Risma Hasnawaty)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |







