WONOGIRI—Satuan Siaga Bencana (Satgana) Palang Merah Indonesia (PMI) se-eks Karesidenan Surakarta menggelar simulasi bencana alam untuk banjir dan angin puting beliung di Petir, kompleks pintu waduk Gajah Mungkur, Wonogiri, Sabtu (9/1).
Ketua Markas PMI Wonogiri, Warjo mengatakan, pelaksanaan latihan bersama yang diikuti sekitar 220 tim Satgana itu didasarkan pada keadaan Provinsi Jawa Tengah yang sebagian besar wilayahnya bergunung dan berhutan tropis.
“Sehingga otomatis menjadi sumber mata air bagi sungai di bawahnya yang berpotensi menyebabkan banjir. Terlebih dengan semakin gundulnya hutan di wilayah hulu,” tukasnya.
Dikatakan, kegiatan tersebut lebih ditujukan untuk evakuasi korban banjir dan puting beliung di wilayah Wonogiri. Mengingat, pengalaman tahun 2007 lalu saat Wonogiri mengalami banjir besar sehingga banyak jatuh korban jiwa. Saat itu tercatat 295 orang hilang dan 335 lainnya meninggal dunia.
Agar lebih cepat dan efektif, Korlap mengajukan tambahan personel Satgana dari wilayah lain. Yakni dari tim Satgana PM Cabang tetangga seperti Sukoharjo, Boyolali, Surakarta, Wonogiri, Sragen dan Klaten.
“Dalam waktu tidak lama, tim Satgana PMI dari kabupaten terdekat akan mulai masuk ke wilayah Kabupaten Wonogiri untuk membantu penanganan bencana, sesuai prosedur dan aturan yang berlaku,” sambungnya.
Untuk Wonogiri, hingga kini terdapat 66 orang yang masuk dalam tim Satgana. Menurut Warjo, jumlah tersebut termasuk minim. Apalagi bila bencana alam terjadi pada saat bersamaan dan tidak satu lokasi. Dengan begitu, kebutuhan bantuan tim mutlak diperlukan.
Selain penanganan berbasis instansi (oleh PMI–red), penanggulangan bencana berbasis masyarakat juga berperan. Karena masyarakatlah yang kali pertama menghadapi bencana. Untuk itu diharapkan, masyarakat sekitar yang tidak terkena bencana bisa memberikan bantuan terlebih dulu. Selain itu, masyarakat sendiri juga harus tahu bagaimana menghadapi kejadian bencana alam.
“Oleh karena itu, tahun 2010 ini, program KBBM (Kesiapsiagaan Bencana Berbasis Masyarakat) akan terus dilanjutkan,” terangnya.
Secara garis besar, materi latihan meliputi teknis, medis dan teori operasional penanganan korban bencana alam. “Tidak dalam keadaan darurat saja kita masih melakukan kesalahan, apalagi bila nanti benar-benar dihadapkan pada bencana yang sesungguhnya,” ujar Sekretaris PMI Solo yang juga Ketua KONI Solo, Sumartono Hadinoto. (son)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |







