Jumat, 18/05/2012
PT JOGLOSEMAR PRIMA MEDIA | Jalan Setia Budi No. 89 Gilingan, Banjarsari, Surakarta | Telp. 0271-717141, 0271-720496 dan 0271-741926 | Fax. 0271-741696 | website : www.harianjoglosemar.com | email : harianjoglosemar@gmail.com

2050, 4 Kabupaten Tenggelam

Kamis, 29/10/2009 21:20 WIB - atm

MAKASSAR (Joglosemar): Akibat perubahan iklim secara global, banyak daratan diprediksikan tergenang air. Salah satunya, 50 tahun ke depan empat kabupaten di Sulawesi Selatan (Sulsel) akan terendam.
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Amran Achmad dari Universitas Hasanuddin Makassar yang baru dirilis ke publik, mengungkapkan daerah Mamminasata (Makassar, Sungguminasa Gowa, Maros dan Takalar) akan terendam air setinggi 50-100 sentimeter dari permukaan air laut.
Hal ini diungkapkan Amran Achmad, seorang peneliti yang mengkaji dampak kenaikan muka air laut terhadap wilayah pesisir Mamminasata, dalam seminar yang diselenggaran Pusat Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH) regional Sulawesi, Maluku dan Papua (Sumapapua) di Makassar, Rabu (28/10).
Menurut dosen kehutanan Unhas ini, total luas wilayah yang akan terendam genangan air laut di empat kabupaten tersebut setara dengan 25.000 lebih luas lapangan sepak bola. Wilayah itu meliputi perumahan, kebun campuran dan empang yang tersebar di empat wilayah.
Wilayah Makassar yang kemungkinan tidak akan berupa daratan lagi pada tahun 2050 di antaranya kawasan Tanjung Bunga, Barombong, Bayang dan sejumlah pulau-pulau kecil di lepas pantai Makassar akan tenggelam.
Sementara di kawasan kabupaten Maros, sejumlah perkampungan yang akan terendam di antaranya Mangarabombang, Panaikang, Sabunga, dan Kurilompoa. Daerah Takalar terbilang cukup banyak yang akan terendam air akibat naiknya permukaan air laut, terparah dan telah menunjukkan perubahan yang mencolok sejak 2005 adalah teluk Laikang, dusun Puntondo permukaan air naik sejauh lima meter dari bibir pantai.

Kerugian
Dari hasil riset yang dilakukan khusus di empat kabupaten ini, lanjutnya, rata-rata kenaikan air pasang di tiap-tiap daerah adalah 30-45 sentimeter selama sekali dalam 2 bulan. ” Kenaikan itu hanya di puncak angin barat atau musim hujan yang jatuh di bulan Desember. Pasang tertinggi akan terjadi dua kali di bulan ini,” jelasnya, seperti dikutip inilah.com.
Perubahan iklim yang memicu menyusutnya daratan ini mengakibatkan kerugian yang tidak sedikit. Amran menaksir besarnya kerugian akibat rendaman pada lahan-lahan tersebut di empat kabupaten berkisar Rp 1,4 triliun.
Amran berharap, dengan hasil riset yang telah dilakukan khusus untuk kawasan Mamminasata, pemerintah daerah setempat bisa melakukan adaptasi dan mitigasi terkait masalah perencanaan pembangunan, peruntukan lahan serta alokasi anggaran pembangunan.
Adapatasi sangat penting dilakukan sedini mungkin, dan perlu ditularkan pada pengambilan keputusan terutama alokasi dana untuk anggaran pembangunan. (atm)

berbagi di Facebook :
Share
berbagi di Twitter :
berbagi di Google + :