JOGJA—Kendati mengalami surplus ketersediaan pangan hingga periode Februari 2010, namun sejumlah wilayah di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta menghadapi ancaman krisis pangan cukup serius.
“Di Gunungkidul masih ada 137 desa yang rawan pangan. Dan kita hendak mengatasi hal tersebut,” ungkap Kepala Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan (BKPP) Provinsi DI Yogyakarta, Asikin Chalifah, Selasa (9/3).
Asikin menjelaskan saat ini pihaknya gencar melakukan penganekaragaman konsumsi makanan pokok yakni dengan jenis serealia dan umbi-umbian sebagai solusi untuk mengatasi daerah rawan pangan. Langkah ini, kata dia, akan mengurangi ketergantungan konsumsi pada beras. “Upaya pengurangan daerah rawan pangan setiap tahun ditarget turun sebesar 1,5 persen,” tandasnya.
Kondisi rawan pangan sendiri diakui Asikin bisa disebabkan oleh banyak faktor di antaranya akibat bencana alam, banjir, kekeringan, gempa bumi, adanya sumbatan distribusi, serangan hama penyakit dan gagal produksi.
Sejauh ini guna mendukung penganekaragaman konsumsi makanan pokok tersebut, Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan DIY juga telah menempuh berbagai upaya, antara lain melakukan identifikasi produksi umbi-umbian jenis ketela rambat, ganyong, garut, gembili, kentang, dan kleci, serta iventarisasi para pelaku usaha yang menghasilkan bahan baku dari tepung umbi-umbian.
Menurut Asikin, hingga Februri 2010 Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta mengalami surplus ketersediaan pangan mencapai 145.000 ton. Hal tersebut tak lepas dari tercukupinya produksi pangan dari 139.000 hektare lahan sawah maupun tadah hujan yang tersebar di empat kabupaten yakni Sleman, Bantul, Gunungkidul, Kulonprogo serta Kotamadya Yogyakarta. (qds)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |







