Pasar Gede Kota Solo, dikenal karena salah satu ikonnya sebagai satu-satunya pusat perdagangan ikan hias terlengkap di Solo. Namun, ikon itu terancam tinggal kenangan karena muncul wacana relokasi bagi pedagang ikan hias. Puluhan pedagang ikan hias pun kini cemas karena belum jelas lokasi pengganti yang ditetapkan.
Laporan:
Deniawan Tommy
Chandra Wijaya
Wajah Busri, dan Yuliati, dua orang pedagang lawas di pasar ikan hias, kompleks Pasar Gede Solo tampak muram. Sesekali, mereka berdiskusi dan mengira-ira, di mana lagi mereka mengadu nasib. Sudah sepekan ini, mereka dan puluhan pedagang ramai membicarakan rencana relokasi bagi pedagang ikan hias dari kompleks Pasar Gede.
Rencana relokasi dari Pemkot Solo itu berhembus dan mengagetkan mereka. Tidak ada yang menyangka, lokasi berdagang yang sudah ditempati selama puluhan tahun akan tinggal kenangan. ”Jujur saja, kami tidak menyangka kalau keberadaan kami dianggap mengganggu. Padahal, selama kami di sini tidak pernah sekalipun kami merepotkan atau minta dibantu pemerintah. Kalau dipindah lantas tidak laku berjualan, siapa yang bertanggung jawab? Padahal pasar ini adalah sumber mata pencaharian kami,” keluh Yuliati, yang berdagang ikan hias di Pasar Gede sejak tahun 1987 ini.
Pedagang ikan hias dan buah menetap di satu atap. Alasan kebersihanlah yang menjadi alasan kuat munculnya wacana relokasi. ”Jika itu alasannya, kami siap menjaga kebersihan dan kerapian pasar ini, tanpa sedikitpun akan meminta bantuan dari pemerintah. Pokoknya kami jangan dipindah,” pintanya.
Menolak Relokasi
Senada, Busri yang berdagang ikan hias sejak tahun 1970, menganggap wacana relokasi hanya hanya akal-akalan untuk menggusur mereka. Terlebih, ia merasa tidak pernah diperhatikan pemerintah selama ini.”Aneh sekali, karena saya jualan di sini sudah tiga puluh tahun lebih. Sama sekali tidak pernah dapat bantuan dan perhatian dari pemerintah. Lha kok sekarang tiba-tiba pemerintah menjadi sangat perhatian, hingga mau memindahkan kami. Ini sangat aneh,” kesalnya.
Mereka menyatakan, wacana relokasi sebenarnya adalah isu lama, yang seringkali berhembus tiap tahunnya. Namun, selalu tidak pernah terwujud dengan alasan yang beraneka macam. Mereka meminta, agar Pemkot Solo tidak lagi berwacana yang aneh-aneh seputar keberadaan mereka. ”Sudahlah jangan lagi berwacana macam-macam. Pokoknya kami tidak mau direlokasi. Kalau memang tidak boleh berdagang ikan hias, kami pun siap alih profesi berdagang yang lain, asal tempatnya tetap di sini,” tegas Busri.
Lain harapan pedagang, lain pula komitmen Pemkot Solo. Karena rencana relokasi bukan hal yang tidak mungkin. Relokasi, kini ibarat ”bom waktu” yang suatu saat akan terjadi. Subagyo, Kepala DPP Pemkot Solo, membenarkan, memang ada rencana dari Pemkot Solo untuk merelokasi keberadaan pasar ikan hias, di kompleks Pasar Gede Solo. Alasannya, kata dia, untuk menata Pasar Gede sesuai peruntukkannya, yaitu sebagai pasar buah, sayur dan kebutuhan harian. Ia menjelaskan, rencananya para pedagang ikan hias, akan direlokasi di daerah pasar burung Depok, Manahan. ”Jadi, semua pasar bisa berfungsi sesuai peruntukkannya, dan tidak lagi bercampur aduk antara hewan, buah, dan sayuran,” jelasnya.
Namun, ia menolak memberikan keterangan terkait kapan rencana itu akan direalisasikan. Begitu pula dengan setplan lokasi pasar ikan hias yang baru itu. Terkait kecemasan para pedagang ikan hias, karena usahanya terancam dengan relokasi nanti, ia meminta para pedagang tidak mendramatisasi rencana relokasi tersebut.
Para pedagang, kata dia, jangan alergi terhadap kata relokasi. Karena rencana tersebut demi kemajuan mereka dan penataan wajah Kota Solo ke depan. ”Jika memang sudah dibutuhkan pelanggan, di manapun berjualan pasti akan dikejar. Kami dari DPP hanya menata pedagangnya saja, untuk penyediaan tempat itu menjadi kewenangan Dinas Peternakan dan Pertanian (Dispertan) Kota Solo,” paparnya.
Terpisah, ketika dikonfirmasi melalui ponselnya, Weni Ekayanti, Kepala Dispertan Pemkot Solo tidak menampik adanya wacana relokasi pedagang ikan hias di kompleks Pasar Gede Solo. Hanya saja, ia juga tidak bersedia memastikan kapan rencana dari Pemkot Solo itu akan dilaksanakan. ”Yang jelas, kami pasti mengadakan sosialisasi dan dialog terlebih dahulu dengan para pedagang. Jadi jangan khawatir terkait masalah tersebut,” jawabnya.
Masalah Baru
Menurutnya, saat ini, pihaknya masih melakukan penelitian terkait lokasi yang akan digunakan untuk pasar ikan hias. Karena wilayah Depok yang sedianya dijadikan lokasi pindahan pasar tersebut merupakan resapan Taman Balekambang, sehingga perlu diketahui tingkat kedalamannya. ”Kita masih menunggu penetapan lokasi yang akan digunakan, kalau saat ini masih dilakukan penelitian terhadap resapan Taman Balekambang,” paparnya.
Rencananya, pasar ikan hias di wilayah Depok akan berdiri dengan dua lantai dan luas sekitar 800 meter persegi hingga 1.200 meter persegi. Untuk pembangunan tahap pertama akan dianggarkan dana sebesar Rp 1,216 miliar yakni dari Dana Alokasi Khusus (DAK) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) 2010 sudah termasuk sokongan dana dari APBD kota antara 10 persen hingga 20 persen dari dana keseluruhan.
”Nanti kalau lokasinya memang di atas resapan air, maka akan dibuat semacam pasar panggung, sehingga tidak menutup resapan air yang telah ada,” tutur Weni.
Belum terealisasi rencana relokasi itu, sudah muncul permasalahan baru, pasalnya, para pedagang di pasar burung Depok keberatan menerima keberadaan para pedagang pasar ikan tersebut. Eko, salah satu pedagang di pasar burung Depok, misalnya, menyatakan keberatan jika bersanding berdagang dengan pedagang ikan hias. Alasannya, para pedagang ikan hias akan banyak menyita tempat, dan menimbulkan masalah kebersihan seperti genangan air, dan bangkai ikan.
”Padahal kami berdagang di sini dituntut untuk selalu bersih, dengan alasan supaya tidak timbul flu burung. Kalau dicampur ikan, apa tidak semakin merepotkan? Tapi kalau ini memang kebijakkan pemerintah, ya mau apa lagi,” ujarnya.
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |







